165. Perintah kedua (22:39-40)

Yang kedua, yang sama dengan itu – 22:38

Teks yang dikutip oleh Yesus dalam ayat ini tidak berbicara tentang Allah secara filosofis. Teks ini membicarakan Allah yang memang menuntut kasih total, namun sebelum mengajukan tuntutan itu, Ia terlebih dahulu menunjukkan kasih-Nya kepada manusia. Allah seolah-olah menetapkan bagi diri-Nya sebagai tugas: Menyelamatkan umat manusia! Inilah alasan, mengapa manusia seharusnya mengasihi Allah, lalu – secara konsekuen –  mengasihi sesama pula. Sama seperti perintah untuk mengasihi Allah tidak dapat dilepaskan dari sejarah penyelamatan manusia, demikian pula perintah mengasihi sesama tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa Allah adalah Tuhan, yang dalam kitab Imamat diungkapkan secara singkat, “Akulah Tuhan” (Im 19).

Ungkapan sama dengannya harus dipahami sebagai “yang sama pentingnya” dengan yang pertama.

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri – 22:39

Perintah kasih kepada sesama dikutip dari kitab Imamat 19:18. Bangsa Yahudi membatasi paham tentang sesama pada warga Israel saja serta pada orang-orang asing yang menetap di antara mereka. Tetapi, di sini, paham tentang sesama diperluas pada setiap manusia tanpa kecuali. Sebab kedua perintah ini ditempatkan pada tingkatan yang sama, dipandang setaraf. Dua-duanya sama penting, sebab alam kasih dalam manusia hanya satu saja. Manusia memang tidak mungkin sungguh-sungguh mengasihi, kalau kasih itu tidak diberikannya kepada orang tertentu.

Teks Matius ini begitu singkat, sehingga sulit dipahami dengan baik, kalau tidak diperhatikan latar belakangnya yang lebih luas, terutama Wejangan Yesus di Bukit (Mat 5-7) dan wejangan mengenai penghakiman (Mat 25:31-46). Kedua teks itu sangat menekankan hubungan erat antara kasih kepada sesama dan kasih kepada Allah. Semua tindakan keagamaan seperti doa, puasa, sedekah, tidak boleh dilakukan demi pamer, melainkan demi Allah semata-mata. Segala kesalahan sesama harus diampuni, sebab kalau tidak, Bapa pun tidak akan memberi pengampunan kepada orang yang berdoa kepada-Nya (Mat 6:14+). Wejangan di Bukit tidak mulai dengan suatu penjelasan mengenai cara menyembah Allah, tetapi justru dengan penegasan, “Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga” (Mat 5:16).

Dengan demikian Yesus menegaskan, betapa kasih kepada sesama tidak terpisahkan dari kasih kepada Allah. Kasih kepada sesama akan membawa sesama kepada Allah!

Hal ini dengan lebih jelas lagi dikatakan oleh Yesus dalam wejangan mengenai penghakiman terakhir: Manusia akan dihakimi menurut perbuatan-perbuatannya terhadap sesama! Inilah sebabnya Yesus dengan berani melanggar berbagai ketetapan tradisional Yahudi. Ia memang tidak dapat menerima kenyataan bahwa manusia dapat tidak dipedulikan, bahkan dirugikan, demi memenuhi suatu peraturan keagamaan. Yesus sama sekali tidak berminat membatalkan satu perintah Hukum pun. Ia hanya menghendaki, supaya perintah atau ketetapan apa saja selalu ditempatkan dalam konteks kasih kepada Allah dan sesama!

Tergantung seluruh hukum Taurat – 22:40

Ahli Taurat yang mendekati Yesus, mau tahu perintah manakah yang mencakup segala perintah lain. Yesus menyebut dua, sambil menegaskan bahwa kedua perintah itu mencakup seluruh Hukum dan para nabi. Jadi, kedua perintah itu bobotnya sama. Inilah norma yang harus dipakai dalam penilaian semua perintah lain. Tidak ada tuntutan ilahi apa pun yang bentrok dengan kepentingan manusia. Melayani kepentingan manusia adalah jaminan bahwa manusia berelasi tepat dengan Allah.

Dalam hal ini teks Matius sangat radikal, namun ia tidak berdiri sendiri. Sebab teks senada dengannya tercantum dalam  1Yoh 4:20, “Jikalau seseorang berkata, ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudara seimannya, maka ia adalah pendusta, karena siapa yang tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya.”

Tugas fundamental manusia tidak pernah dirumuskan oleh Kitab Suci begini, “Kasihilah Allah!” Tetapi, seluruh Hukum dan para nabi sesungguhnya dapat diringkaskan dengan berkata, “Kasihilah sesamamu bagaikan dirimu sendiri!” Penyatuan kedua perintah ini memang dilakukan oleh Yesus sendiri dan hasilnya yang gemilang dengan tepat ditangkap oleh umat Kristen masa awal. Justru dalam hal satu ini Yesus sangat berbeda dengan orang-orang Farisi dan lawan-lawan-Nya yang lain.

Dengan latar belakang penjelasan ini kiranya lebih mudah dipahami, bahwa “jebakan” yang menurut teks ini dipasang oleh ahli Tautat, sesungguhnya merupakan jebakan yang paling fudamental. Dengan menggabungkan kedua perintah kasih dan menjadikannya sebobot, Yesus tahu akibatnya: Ia akan ditolak oleh para pemuka bangsa-Nya, lalu dibunuh. Sebab mereka tampaknya tidak bisa mengerti bahwa perintah keagamaan dapat dilanggar demi kepentingan manusia.