161. Kaisar dan Allah (22:20-22)

Gambar dan tulisan Kaisar – 22:21
Aslinya satu kata saja, yaitu: (dari) Kaisar. Para lawan Yeus tidak dapat memberi jawaban lain. Ada sejumlah ahli yang berpendapat bahwa Yesus mau mempermalukan para penanya-Nya. Sebab dengan memiliki mata uang Romawi, mereka sesungguhnya sudah menaklukkan diri kepada penjajah dari Roma.
Pendapat ini cukup kuat dan meyakinkan. Tetapi, Yesus mungkin tidak bermaksud sejauh itu. Dengan menghadapi kenyataan, Yesus hanya mencari titik tolak bagi jawaban-Nya.

Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib – 22:21
Aslinya ayat ini berbunyi begini, “Maka yang dari Kaisar, serahkanlah kepada Kaisar, dan yang dari Allah, kepada Allah.”
Jawaban Yesus ini diartikan dengan berbagai cara, yaitu sebagai ironi, teka-teki, serangan terhadap perjuangan orang-orang Zelot, dsb. Paling banyak ahli mengartikan jawaban ini sebagai undangan untuk membayar pajak, tetapi dengan dua kemungkinan: (a) Yesus memberi pemecahan praktis pada masalah kehidupan sehari-hari; (b) Yesus memberi jawaban umum sehubungan dengan kuasa politik.
Tetapi, kalau diterima bahwa pertanyaan-jebakan mengenai pajak dikemukakan kepada Yesus dengan latar belakang kemesiasan-Nya, maka masalahnya menjadi lain. Dalam jawaban Yesus ini termaktub suatu visi mengenai kuasa politik dan relasinya dengan Allah. Yesus tidak berbicara tentang keabsahan atau asal-usul ataupun jasa penguasa Romawi. Ia bertitik tolak dari kenyataan dan dari masalah konkret yang timbul dalam konteks politik dan keagamaan konkret. Yesus memang tahu bahwa Ia mau dijebak. Tetapi, Ia sadar pula bahwa dari jawaban-Nya akan tergantung paham orang mengenai kemesiasan-Nya dan mengenai Kerajaan Allah yang diberitakan-Nya.
Bagian pertama kalimat, Yang dari kaisar, serahkanlah kepada kaisar! Mengandung dua arti: (1) Berikanlah kepada kaisar apa yang dimintanya daripada kalian – dalam soal pajak –  sebagai penguasa. Untuk sementara, Allah telah memberi kuasa kepada kaisar Roma, maka kaisar harus ditaati. Arti ini berlatar belakang paham PL bahwa segala jenis kuasa akhirnya berasal dari Allah; (2) Aku bukan Mesias yang untuk melasanakan tugasnya berusaha merebut kuasa politik lalu menggantikan kaisar.
Bagian kedua kalimat, Dan yang dari Allah, kepada Allah, perlu direnungkan secara khusus. Bagian ini memperjelas bagian pertama tadi. Yesus di sini tidak mau mengadakan pemisahan antara dua jenis kuasa yaitu kuasa kaisar dan kuasa Allah. Sama seperti orang Yahudi lain, Yesus pun yakin bahwa segala jenis kuasa, termasuk kuasa raja-raja kafir, dalam arti tertentu berasal dari Allah dan takluk pada penghakiman—Nya. Yesus tidak bicara pula di sini tentang Gereja, seolah-olah kata “Allah” dapat diganti dengan “Gereja!” Yesus tidak juga menyederajatkan Allah dengan kaisar.! Sebab Ia langsung menambah, “dan yang dari Allah,  (serahkanlah) kepada Allah.” Dengan demikian Ia justru menegaskan bahwa Allah ada atas segala-galanya. Kaisar tidak pernah mempunyai hak universal atas manusia seperti Allah.
Apa yang sesungguhnya mau dikatakan Yesus? Dengan berkata, Serahkanlah kepada Allah apa yang dari Allah, Yesus menuntut kesetiaan yang sangat konkret. Ia menghimbau manusia untuk menerima Kerajaan Allah yang tampak dalam diri-Nya, dan untuk mengakui-Nya sebagai Mesias yang datang untuk menegakkan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah itu sudah datang dalam diri Yesus. Tetapi, para lawan-Nya sama sekali tidak melihatnya. Mereka pura-pura sibuk memikirkan kepentingan Allah dengan mengemukakan masalah pembayaran pajak kepada kaisar. Tetapi, mereka sama sekali tidak peduli bahwa Allah hadir dalam diri Yesus yang ditanya itu dan menuntut hal yang jauh lebih penting daripada yang mereka pertanyakan.
Serahkanlah kepada Allah yang dari Allah adalah suatu himbauan-desakan untuk menyambut Kerajaan Allah yang diberitakan oleh Yesus serta mengakui kemesiasan-Nya yang sesungguhnya: Kerajaan Allah tidak bersaing dengan kerajaan kaisar; keduanya termasuk orde yang berbeda dan tingkatan yang berbeda. Mesias tidak datang ke bumi untuk mengambil alih kuasa kaisar, lalu menjadi mesias politik-reigius. Ia datang untuk menegakkan Kerajaan Allah. Maka, jawaban Yesus harus dipahami dalam terang kata-kata yang dicatat dalam Injil Yohanes, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini” (Yoh 18:36). Struktur-struktur politik berkaitan erat dengan kebebasan manusia, sehingga penyempurnaannya harus terus diusahakan. Tetapi, misi Yesus tidak pernah bertujuan sesempit itu! Yesus mau membebaskan manusia dari belenggu dan perbudakan yang bercokol dalam hatinya untuk membukanya bagi kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama sepanjang hidup sampai derita dan kematian. Jadi, jawaban Yesus dapat dibaca sebagai himbauan untuk menerima kemerdekaan sejati.