159. Allah atau Kaisar (Mat 22:15-21)

Injil hari raya nasional
Teks ini dikenal umum dan cukup sering dipakai dalam liturgi hari-hari raya nasional. Walaupun demikian, isinya menimbulkan cukup banyak pertanyaan.

Konteks teks ini
Para Sinoptisi (Injil Matius, Markus, Lukas) menempatkan pertanyaan seputar pajak ini sesudah masuknya meriah Yesus ke kota Yerusalem, sehabis perumpamaan Yesus mengenai para penggarap kebun anggur. Para lawan Yesus berpolemik dengan Dia, sedangkan pajak merupakan suatu masalah yang memang dapat diperdebatkan.
Harus diakui bahwa pada kahir karya Yesus di hadapan umum, para lawan-Nya terus berusaha menjerat-Nya dengan macam-macam pertanyaan. Kemesiasan Yesus dipertanyakan dengan gencar oleh pmpinan Yahudi, khususnya oleh pimpinan yang berkuasa di Yerusalem. Tetapi, sikap pimpinan Yahudi itu dimanfaatkan pula oleh Yesus sendiri untuk menjelaskan jenis kemesiasan yang hendak diwujudkan-Nya.
Yesus dengan tegas menolak kemesiasan politik-religius yang begitu dirindukan oleh saudara-saudara sebangsa-Nya. Dalam Injil Matius, sikap tegas Yesus ini sudah dapat dilacak dalam kisah pencobaan (Mat 4:8-10). Sikap yang sama ditegaskan dalam Injil Yohanes (6:14-15). Yesus datang ke bumi untuk semua manusia, semua bangsa, sehingga Ia tidak mungkin membatasi karya-Nya pada pembebasan bangsa-Nya sendiri saja. Sungguh tepat, bila jawaban Yesus atas pertanyaan mengenai pajak, dilihat dalam konteks ini.

Politik dan agama
Untuk lebih memahami teks ini perlu disadari bahwa bangsa Yahudi selalu memikirkan politik sebagai sesuatu yang tunduk kepada agama. Karena mereka terikat pada Perjanjian dengan Yahweh, maka dengan sendirinya mereka berpikir, bahwa kemerdekaan nasional akan mereka terima dari Mesias, utusan Yahweh. Dari lain pihak mereka yakin pula akan adanya ikatan erat antara uang dan kuasa. Kuasa seorang raja meliputi wilayah peredaran uang yang dicetaknya. Pada dinar Romawi yang beredar di Palestina pada waktu itu tertera gambar Kaisar Tiberius.
Sejak tahun 6 Masehi, wilayah kekuasaan Arkhelaus, Yudea, dijadikan bagian propinsi Romawi Siria. Karena wilayah itu dipimpin langsung oleh seorang wakil kaisar (namanya: praefectus), maka para penduduknya wajib membayar pajak kepada kaisar. Wilayah kekuasaan Herodes Antipas (terutama Galilea) dan Filipus tetap dipandang sebagai wilayah khusus, sehingga para penduduknya tidak membayar pajak kepada kaisar; yang wajib membayarnya hanyalah penguasa wilayah-wilayah tersebut.
Jadi, dari satu pihak, hubungan erat antara politik dan agama menunjang penantian bangsa Yahudi akan datangnya Mesias dalam arti politik-religius. Tetapi, dari lain pihak, hubungan antara uang dan kuasa, dirasakan oleh para penghuni Yudea sebagai masalah berat. Sebab dengan membayar pajak dengan uang yang dicetak oleh kaisar dan dengan gambar kaisar, mereka seolah-olah mengakui kaisar sebagsi raja mereka. Padahal satu-satunya raja mereka ialah Yahweh ataupun utusan-Nya!
Dalam konteks ini mudah dipahami munculnya kelompok Zelot yang dengan tegas menolak membayar pajak. Kaum Farisi, walaupun gelisah dalam hati, cenderung memberi penjelasan bahwa masyarakat boleh saja membayar pajak kepada raja kafir, sebab raja-raja kafir itu pun menerima kuasa dari Allah.

Masalah umat Kristen
Namun, pembayaran pajak kepada kaisar merupakan pula masalah umat Kristen sendiri, khususnya umat Kristen asal Yahudi. Bolehkah membayar pajak kepada penguasa kafir, padahal Allah hanya satu? Bukankah dengan membayar pajak itu, umat Kristen mendukung agama kafir yang menyembah berbagai macam dewa? Tetapi, bagi umat Kristen zaman dulu, teks ini tidak terbatas pada soal pajak saja. Lewat teks ini mereka merenungkan pula jenis kemesiasan Yesus.

Pembagian teks ini
Teks ini meliputi dua bagian:
22:15-19 Membayar pajak;
22:20-22 Kaisar dan Allah.