157. Seorang undangan tanpa pakaian pesta (22:11-13)

Raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu – 22:11
Menurut adat Timur kuno, raja tidak biasa hadir dalam perjamuan yang diadakannya. Namun, raja dari perumpamaan ini, demi menghormati para tamunya, datang ke ruangan pesta.

Ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta – 22:11
Pembaca masa kini pasti terheran-heran membaca kalimat ini. Sebab bagaimana mungkin orang yang sama sekali tidak siap, tiba-tiba dapat berpakaian pesta? Namun, masalan ini sama sekali bukan perhatian Matius. Ia justru berpendapat bahwa orang yang diundang menghadiri perjamuan kemesiasan, tidak boleh “berpakaian lama.” Partisipasi dalam perjamuan Mesias menuntut perubahan pola hidup. Inilah pokok utama ayat ini!

Hai saudara – 22:12
Sapaan ini ramah sekali (Mat 20:13), namun di dalamnya terasa juga nada teguran. Di kemudian hari Yesus sendiri akan menyapa dengan cara ini Yudas yang telah mengkhianati-Nya (Mat 26:50).

Bagaimana engkau masuk – 22:12
Pada waktu raja mengajukan pertanyaan ini, ia tidak mau tahu cara tamu itu masuk, tetapi mengungkapkan rasa kagetnya bahwa di antara tamu-tamunya ada yang tidak berpakaian pesta. Ia seolah-olah mau berkata: Karena engkau tidak berpakaian pesta nikah, maka engkau tidak berhak berada di sini!

Diam saja – 22:12
Tamu itu tidak tahu apa yang harus dijawabnya.

Kepada hamba-hambanya – 22:13
Para ahli tidak sepakat, apakah hamba-hamba yang disebut di sini (lain kata Yunani!) merupakan kelompok yang berbeda dengan hamba-hamba yang disebut dalam ayat-ayat sebelumnya. Pokoknya dalam ayat ini Matius menggunakan kata pelayan, sebab merekalah menghidangkan makanan kepada para tamu.

Ikatlah kaki dan tangannya – 22:13
Karena terikat, tamu itu tidak dapat bergerak lagi.
Sama seperti sebelumnya, dalam ayat 7, kali ini pun raja bertindak dengan kejam.

Campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan – 22:13
Dari ruangan penuh cahaya, tamu itu akan dipindahkan ke dalam kegelapan.

Ratapan dan kertak gigi – 22:13
Kegelapan disebut oleh Matius di tempat lain juga (Mat 8:12 dan 25:30), dan begitulah halnya pula dengan ratapan dan kertak gigi (Mat  8:12; 13:42; 24:51; dan 25:30). Ungkapan-ungkapan ini selalu searti dengan hukuman tidak terbatalkan, derita kekal dan hukuman neraka. Orang yang tadinya masih berstatus undangan, kini ditoak, dibuang dari pesta, dibiarkan mengalami keputusasaan, sebab ia menduga bahwa ia dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga tanpa berpakaian pesta.
Dilihat dalam konteks ini, pakaian pesta ini bermakna simbolis, dan artinya kebenaran, yaitu pola hidup dan pola laku yang dituntut dari semua orang yang mau menjadi warga komunitas yang diselamatkan (Yes 61:10; Why 3:4; 5:18). Allah memang mengundang semua manusia, tetapi bukan tanpa menuntut apa-apa!