156. Undangan yang tidak direncanakan (22:8-10)

Ia berkata kepada hamba-hambanya – 22:8
Sehabis ayat 7 yang bercerita sebentar tentang hukuman, dalam ayat 8-10 perumpamaan kembali ke tema pesta nikah. Karena perjamuan sudah siap, dan karena yang paling dulu diundang ternyata tidak layak (Matius menggunakan ungkapan tidak layak ini dalam ay 10,11,13, 37,38). Maka, demi mengisi ruangan pesta, raja menyuruh para hambanya pergi ke jalan-jalan ke luar kota.

Pergilah ke persimpangan-persimpangan – 22:9
Para hamba disuruh pergi ke tempat-tempat yang paling ramai, barangkali ke pintu-pintu gerbang kota, tempat orang masuk dan keluar.

Undanglah setiap orang yang kamu jumpai – 22:9
Lukas bicara tentang orang-orang miskin, cacat dan buta (Luk 14:21), sesuai dengan perhatiannya terhadap manusia yang malang (Luk 4:18). Tetapi, Matius bicara tentang setiap orang, siapa saja yang dijumpai, dan hal ini sangat cocok dengan kesimpulan yang disajikannya dalam ayat 11-13.

Mengumpulkan semua orang … jahat … baik – 22:10
Para hamba tidak menghimpun orang-orang itu dulu dan baru sesudahnya mengantarkan mereka ke istana raja, tetapi membawa masing-masing orang secara individual, sampai saatnya ruangan pesta penuh. Kalimat ini menggambarkan sikap Allah yang sesungguhnyua: Ia mengasihi semua orang (Mat 5:45).
Tetapi, kalimat ini menggambarkan pula kenyataan yang dihadapi oleh komunitas Kristen di zaman Injil Matius disusun. Tidak semua orang dalam komunitas itu cukup suci! Sama seperti digambarkan dalam Mat 13:37-43,47-50. Gereja adalah campuran orang-orang suci dan pendosa.

Penuhlah ruangan perjamuan – 22:10
Dengan datangnya tetamu yang memenuhi semua tempat kosong, perjamuan dapat dimulai.