155. Undangan yang ditolak dan akibatnya (22:1-7)

(bacalah terlebih dahulu perikop ini!)

Yesus berbicara lagi – 22:1
Aslinya teks ini dibuka dengan kata-kata, Sambil menjawab. Ada kemungkinan bahwa Yesus mengucapkan perumpamaan ini untuk menjawab pertanyaan sehubungan dengan kuasa-Nya (Mat 21:23).

Dalam perumpamaan – 22:1
Tentang arti kata perumpamaan bacalah komentar pada Mat 13:3
Dilihat dari sudut perumpamaan terdahulu, inilah ilustrasi ketiga tentang cara pimpinan Yahudi menanggapi amanat Yesus.

Kepada mereka – 22:1
Siapa mereka itu, tidak disebut. Tetapi, dari konteksnya diketahui, bahwa perumpamaan ini ditujukan oleh Yesus kepada para pemimpin Yahudi yang dalam 21:23 diidentifikasikan sebagai imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi, dan dalam 21:45 sebagai imam-imam kepala dan orang-orang Farisi. Yang jelas, mereka mempertanyakan kuasa Yesus.

Kerajaan Surga seumpama seorang raja – 22:2
Yesus tidak membandingkan Kerajaan Surga dengan seorang raja, tetapi dengan seluruh situasi yang timbul pada saat seorang raja mengadakan pesta nikah bagi putranya.
Berbeda dengan teks paralel dalam Injil Lukas, tokoh perumpamaan ini adalah raja. Ia tidak mengadakan perjamuan (seperti dalam Injil Lukas), melainkan pesta nikah bagi anaknya.
Dalam 18:23, Mat membandingkan Allah dengan raja yang menginaugurasikan era mesianis. Inaugurasi ini terungkap dalam gambar pesta nikah. Putra sang raja ialah Yesus, yang dalam 9:15 disebut “mempelai.” Kedatangan Kerajaan Surga dibandingkan dengan perjamuan juga dalam Mat 26:29. Sebab Yesus memberitakan dan membawa kepada manusia cukacita serta suasana pesta. Amanatnya ialah kabar  baik.
Kerajaan Surga datang dalam diri Yesus, sambil menciptakan situasi baru, baik bagi manusia maupun bagi dunia pada umumnya.

Tetapi orang-orang itu tidak mau datang – 22:3
Para undangan menolak dengan penuh kesadaran.

Ia menyuruh lagi hamba-hamba lain – 22:4
Raja itu tidak putus asa. Ia mengulangi undangannya (Mat 21:36) sambil memberi penjelasan rinci tentang persiapan yang diadakannya, sehingga undangannya bernada mendesak. Raja seolah-olah tidak dapat menahan sukacitanya sehubungan dengan pesta yang hendak diadakannya.

Lembu-lembu jantan dan ternak … telah disembelih – 22:4
Dengan  cara inilah biasanya ditegaskan bahwa pada jamuan akan dihidangkan daging terbaik. Ungkapan ternak piaraanku mengacu kepada ternak yang sengaja digemukkan demi kesempatan tertentu.

Semuanya telah tersedia – 22:4
Ungkapan semuanya telah kusediakan/tersedia muncul dalam teks ini tiga kali; dua kali dalam ayat 4 ini dan sekali dalam ayat 8. Terasa ada urgensi; makanannya hangat, siap untuk disantap.

Tidak mengindahkannya – 22:5
Para undangan menolak untuk kedua kalinya. Mereka sibuk dengan hal-hal yang menurut mereka lebih penting.

Menangkap hamba-hamba … menyiksanya dan membunuhnya – 22:6

Ketiga tindakan ini sama sekali tidak dsebut dalam perumpamaan sejajar dalam Injil Lukas. Dari nada kalimat Yunani ini dapat disimpulkan bahwa semua undangan memperlakukan para budak raja dengan cara kejam.

Siapa yang hendak digambarkan melalui para hamba ini? Para pembawa amanat Allah di segala zaman. Amanat mereka tidak diterima. Beberapa dari antara mereka dianiaya dan ditolak (Mat 23:36-39). Dalam pandangan Matius, orang-orang yang menolak para utusan Allah ialah pimpinan agama Yahudi.

Murkalah raja itu – 22:7
Murka ini sangat mendalam. Penghinaan dibalas oleh raja dengan tindakan yang tampaknya kurang proporsional. Namun, tindakan itu justru mengingatkan murka Allah terhadap umat-Nya yang tidak setia (Ul 8:19; Yes 5:25), khususnya penghancuran kota Ai oleh Yosua (Yos 8:28).
Tindakan ini berperan pula sebagai pra-gambar kehancuran kota Yerusalem pada tahun 70 nanti. Bila seseorang menolak Injil, ia harus menanggung akibat mengerikan.