145. Iman Mengandaikan Ketaatan (Mat 21:28-32)

Alasan pimpinan Yahudi tidak percaya

        1. Hubungan perumpamaan ini dengan pertanyaan yang diajukan kepada Yesus, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?” (Mat 21:23). Yesus tidak menjawab pertanyaan ini. Ia malah mengajukan pertanyaan sendiri, yaitu, “Dari manakah baptisan Yohanes? Dari surga atau dari manusia?”
          Mereka yang ditanya oleh Yesus, tidak menjawab. Sebab mereka memang tidak percaya kepada Yohanes, sebagaimana ditegaskan oleh Yesus dalam ayat 32. Dengan tidak mau percaya kepada Yohanes, para penanya Yesus menjadi serupa dengan anak pertama dari perumpamaan ini. Mereka pun berkata, “Kami tidak mau!” Namun, berbeda dengan anak itu, para penanya selanjutnya tidak mau berubah pikiran. Mengapa? Alasannya satu, yaitu karena para pemungut cukai dan para pelacur menanggapi amanat Yohanes secara positip!
        2. Hubungan perumpamaan ini dengan perumpamaan yang menyusulnya dalam Mat 21:33-46. Di situ pun disebut orang-orang yang bekerja di kebun anggur. Mereka berontak terhadap pemilik kebun anggur, bahkan membunuh anaknya. Para penggarap yang berontak itu menggambarkan orang-orang Yahudi yang hatinya sudah mengeras; mereka terus berontak terhadap utusan Allah, sehingga akhirnya membunuh Putra-Nya sendiri. Sikap mereka lebih jahat daripada sikap orang-orang “saleh” terhadap karya Yohanes Pembaptis.
          Maka kedua perumpamaan yang menyusul perdebatan mengenai kuasa Yesus, saling melengkapi, sebab keduanya menggambarkan sikap pimpinan Yahudi. Mereka tidak mau percaya kepada Yohanes Pembaptis, sebab mereka memang bersikap “anti” terhadap semua utusan Allah pada umumnya, khususnya terhadap Putra-Nya, yaitu Yesus Kristus.
        3. Hubungan peprumpamaan ini dengan Mat 21:32 (ayat terakhir teks ini yang berbunyi, “Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi, pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur percaya kepadanya. Meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya”). Ayat ini memang sebuah tambahan dari Matius sendiri, namun isinya memperluas makna perumpamaan Yesus. Melalui pernyataan-Nya dalam ayat 31, Yesus menegur orang-orang “saleh” yang menolak amanat-Nya, yaitu sapaan yang ditujukan oleh Allah sendiri melalui diri-Nya.
          Dalam ayat 32, Yesus tidak berbicara tentang diri-Nya sendiri melainkan tentang Yohanes Pembaptis. Mengapa? Dengan cara ini Matius berusaha menyelesaikan masalah yang disinggung sebelumnya (dalam Mat 21:23-27). Yohanes datang “menunjukkan jalan kebenaran,” artinya mengajarkan kebenaran, memperkenalkan kehendak Allah terhadap bangsa Yahudi. Tetapi, ia ditolak, Memang begitulah sikap manusia terhadap para utusan Allah. Mereka datang satu per satu, yaitu nabi-nabi, lalu pendahulu Mesias, bahkan Putra Allah sendiri, akhirnya murid-murid Yesus. Namun, manusia sama saja reaksinya terhadap mereka semua, yaitu tidak percaya, menolak, berontak. Orang-orang yang demikian pasti tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah.