Jumat, 19 Nopember 2021

B-353 – 1Mak 4:36-37.52-59 – Yudas berkata, “Musuh kita sudah hancur. Baiklah kita pergi mentahirkan Bait Allah dan mentahbiskannya kembali” (ay 36)

MENGAKUI KETIDAKSANGGUPANNYA

  1. Pembangunan kembali dan penyucian Bait Allah, yang berturut-turut diusahakan orang-orang Yahudi, dapat ditafsirkan sebagai pengakuan tentang ketidaksanggupan mendalam mereka untuk mengungkapkan kehadiran Allah di dalam dunia.
  2. Setelah bangsa-banga asing menajiskan Bait Allah di Yerusalem, orang-orang Yahudi terus-menerus berpikir mengenai penyuciannya. Tentu saja serangan bangsa asing yang bermusuhan dengan bangsa Yahudi, merupakan fakta yang tidak dapat dibantah. Kadang-kadang malahan sebuah kenyataan yang mengerikan. Namun boleh bertanya, mengapa orang-orang Yahudi tidak memandangnya sebagai semacam protes terhadap suatu ibadat yang penuh formalisme dan yang diperuntukkan bagi segolongan orang saja?
  3. Suara hati orang-orang Yahudi menjadi tenang kembali, setelah mereka dapat mengadakan pelbagai ‘upacara pemulihan.’ Akan tetapi ibadat sendiri tidak berubah apa-apa sesudahnya. Padahal ibadat itu harus diadakan ‘dalam roh dan kebenaran.’

Luk 19:45-48 – “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun”