144. Iman Mengandaikan Ketaatan (Mat 21:28-32)

(bacalah terlelbih dahulu perikop di atas dengan baik dan cermat!)

Dua anak
Perumpamaan ini sangat singkat, tanpa bumbu apa-apa. Yang terpenting di dalamnya ialah kontras antara dua anak, tepatnya kontras antara dua sikap dan jawaban. Anak pertama bersikap kasar, sambil berkata, “Aku tidak mau.” Anak kedua bersikap ramah sekali, sambil menjawab, “Ya, Tuan.” Namun, si kasar, yang menolak permintaan ayahnya itu, justru pergi bekerja, sedangkan yang ramah dan tampaknya siap membantu, tidak pergi. Akhirnya ada pertanyaan, Siapakan di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?, yang ditanggapi dengan jawaban jelas, Yang pertama. Jadi, yang taat ialah anak yang kasar dan yang mula-mula menolak itu.

Para pendengar Yesus
Pada waktu itu Yesus berbicara kepada sekelompok pendengar yang mewakili sikap dan tindakan anak yang kedua, yang ramah itu. Tidak seperti para pemungut cukai dan para pelacur (yang disebut dalam ay 31) yang dicap sebagai pendosa profesional, para pendengar Yesus itu justru dipandang “saleh” sebab dengan saksama memperhatikan segala perintah Allah dan peraturan yang ditetapkan oleh Hukum Yahudi. Karena dipandang “saleh”, mereka tentu saja yakin bahwa para pendosa profesional tidak melakukan perintah Allah, bahkan tidak mampu bertobat. Namun, dalam kenyataannya, mereka taat dalam bicara saja, tetapi tidak taat sebagai pelaksana kehendak Allah.

Siapa yang masuk ke dalam Kerajaan Allah?
Apa yang salah pada kelompok yang “saleh” itu? Keyakinan bahwa kehendak Allah terungkap dalam ketetapan-ketetapan tradisional Yahudi. Yesus justru tidak sependapat dengan mereka. Yesus yakin bahwa kehendak Allah tidak boleh disamakan dengan Hukum. Sebab dalam kenyataannya, para pelaksana setia Hukum yang berjumpa dengan Yesus, akhirnya menolak amanat-Nya, sedangkan mereka yang tampaknya tidak siap menerima amanat itu, mendengarkan Yesus dan melakukan apa yang dituntut oleh-Nya.
Dengan demikian Yesus menegaskan bahwa soal masuk tidaknya ke dalam Kerajaan Allah tergantung dari sikap manusia terhadap amanat Injil yang diberitakan-Nya. Kalau seseorang menolak amanat itu dengan alasan yang mengacu kepada suatu ketetapan Hukum, maka ia sesungguhnya menolak Kerajaan Allah dan tidak mungkin masuk ke dalamnya. Tempat yang disediakan baginya di dalam Kerajaan Allah, akan diisi oleh para pendosa profesional.

Konteks historis
Dilihat dari sudut konteksnya, teks ini bermakna lebih luas lagi. Menurut Injil Matius, setelah datang ke Yerusalem, Yesus langsung menghadapi masalah. Mula-mula Ia ditanya tentang kuasa yang menjadi dasar tindakan-Nya di dalam Bait Suci (Mat 21:23-27). Daripada menjawab langsung, Yesus berperumpamaan tentang dua anak yang berbeda sikap dan tindakannya (teks ini), lalu mengenai petani-petani jahat yang bekerja di kebun anggur (Mat 21:33-46), akhirnya mengenai para undangan yang tidak mau menghadiri pesta nikah (Mat 22:1-14).