141. Yesus memasuki Yerusalem (21:2-7)

(bacalah perikope ini terlebih dahulu sebelum mengikuti penjelasannya!)

Desa yang di depanmu itu – 21:2
Desa di depan itu barangkali Betfage (ay 1).

Keledai betina tertambat dan anaknya – 21:2
Hanya dalam teks Matius ini disebut dua ekor keledai (induk dan anaknya), padahal dalam kitab Zakharia (Za 9:9) yang melatarbelakangi ayat ini, disebut seekor saja, walaupun dengan dua istilah yang berbeda. Dengan menyebut induk bersama anaknya, Matius kiranya hendak menegaskan kesakralan hewan itu: Keledai tersebut belum pernah ditunggangi manusia!
Menurut ayat 7, murid-murid Yesus menaruh jubah-jubah mereka pada kedua keledai itu, sehingga dapat disimpulkan bahwa Yesus duduk di atas kedua keledai itu. Dilihat dari sudut kebiasaan sehari-hari, hal ini tampak aneh. Namun, dilihat dari sudut teknik penulisan Matius, perlu dikatakan bahwa angka dua berperanan penting dalam beberapa narasinya. Menurut dia, Yesus menyembuhkan dua orang kerasukan setan di Gadara/Gerasa (Mat 8:28) dan bahwa di Yeriko, Yesus menyembuhkan dua orang buta (Mat 20:29-34), padahal dalam Injil lain – pada kedua kisah itu – disebut seorang saja.

Tuhan – 21:3
Hanya di sini saja dalam Injil Matius, Yesus bicara tentang diri-Nya sebagai tuan, yang dapat pula diartikan “Tuhan.”

Katakanlah kepada putri Sion – 21:5
Putri Sion adalah sebuah ungkapan Yahudi khas (Za 9:9). Kata putri mengacu kepada “para penduduk kota,” sedangkan kata Sion mengacu kepada Yerusalem. Maka, ungkapan putri Sion searti dengan “para penduduk Yerusalem.”

Lihat – 21:5
Kata lihatlah biasanya dipakai untuk merangsang perhatian pembaca.
Kutipan yang disajikan dalam ayat 5 ini merupakan sebuah nas-gabungan (Yes 62:11 dan Za 9:9) dan berbeda bunyinya dengan teks asli PL. Mula-mula Matius memotong bagian awal kutipan dari kitab Zakaria, yakni, “bersorak-soraklah dengan nyaring.” Sesudah ungkapan putri Sion, Matius memotong sebaris lagi, yaitu “Ia adil dan jaya.”
Tidak jelas, mengapa Matius berbuat demikian. Pendapat para ahli dalam hal ini cukup berbeda satu sama lain. Mungkin saja Matius mengutip teks PL secara bebas, tanpa terlebih dahulu mengecek bunyi aslinya. Mungkin juga ia mengenal teks ini dalam bentuk yang sudah agak diubah oleh tradisi, dan mungkin teks PL ini sudah direinterpretasikan oleh umat Kristen dalam terang kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus. Namun, dengan menghilangkan sejumlah unsur teks asli PL, Matius justru berhasil menegaskan kerendahan hati Yesus.

Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut – 21:5
Yesus memang datang sebagai raja, tetapi sebagai raja yang lemah lembut. Berbeda dengan orang-orang kaya dan para penguasa, Yesus tidak naik kendaraan mewah ataupun kuda, melainkan seekor keledai yang biasa ditunggangi oleh para leluhur bangsa Israel (Kej 49:11; Hak 5:10). Yesus tidak mau memanfaatkan kuasa rajawi-Nya untuk mencapai tujuan-Nya.
Kata lemah lembut untuk pertama kalinya dipakai oleh Matius dalam “Sabda-sabda Bahagia,” tepatnya dalam 5:5, lalu dalam 11:29 (bacalah komentar pada Mat 5:5).
Ungkapan, Katakan kepada putri Sion yang membuka kutipan ini berasal dari Yes 62:11. Dengan memperhatikan konteks dari kitab Yesaya ini dapat dipastikan bahwa Matius memang memikirkan pembaruan Yerusalem sesuai dengan harapan bangsa Yahudi. Namun, menurut dia, pembaruan itu akan terjadi berkat sengsara Yesus di Yerusalem (Yes 60:1-62:12).

Seekor keledai beban yang muda – 21:5
Dalam ungkapan ini tidak dimaksudkan dua keledai yang berbeda, melainkan seekor saja. Tetapi ada penjelasan tambahan bahwa anak keledai itu adalah keturunan hewan beban.

Pergilah murid-murid – 21:6
Maksudnya, ‘Kedua murid yang diutus oleh Yesus.’ Mereka pergi ke Betfage.

Jubah mereka – 21:7
Di sini dimaksudkan pakaian luar, baju panas, mantel (Mat 5:40).