133. Solider dengan Saudara Sendiri – Mat 20:1-16a (3/4)

Menuntut hak istimewa
Di mana letak salah mereka? Dalam kenyataan bahwa mereka sesungguhnya tidak memikirkan hak lagi, melainkan hak istimewa (privilege). Kalau salah satu kelompok diistimewakan, maka kelompok lain dengan sendirinya dirugikan. Mereka memang mau diistimewakan. Karena hal itu terjadi, mereka langsung berubah sikap. Tentang kelompok terakhir mereka bicara dengan nada penghinaan, “Mereka yang masuk terakhr ini (bukannya: teman-teman kami yang datang belakangan) bekerja satu jam.”
Nada yang sama terdengar dalam bicara anak sulung, “Baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia” (Luk 15:30).
Nada ini terasa pula dalam Luk 18:11, “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti orang lain …, bukan juga seperti pemungut cukai ini.”
Apa yang mencolok dalam sikap orang yang bicaranya begini? Mereka sama sekali tidak solider dengan kelompok lain. Sikap ini mau diperbaiki oleh ayah dari perumpamaan Lukas yang menegur anak sulungnya, “Ini saudaramu, bukan anakku saja! Orang yang kautolak itu tetaplah saudaramu sendiri!” Sikap ini terasa pula dalam perumpamaan Matius ini. Para pekerja menuntut hak istimewa sambil memisahkan diri dari teman-teman yang bertatus pekerja juga sama seperti mereka. Sikap mereka seungguhnya tidak berbeda dengan sikap kaum Farisi yang tidak mau tahu “para pendosa!”
Dengan memperhatikan semuanya ini,lebih mudah sampai kepada kesimpulan akhir. Dilihat dari sudut keadilan semata-mata, keputusan pemilik kebun boleh dipersoalkan. Namun, ia baik pula. Para pekerja tidak mungkin menangkap kebaikannya selama mereka tidak mau berubah sikap, yaitu selama mereka tidak mau mengakui kelompok pekerja terakhir sebagai teman-teman mereka, selama mereka tidak mau menerima kenyataan bahwa itulah kekonpok mereka sendiri juga, dan bahwa mereka harus solider dengan mereka. Daripada memprotes upah yang diterima kelompok itu, mereka seharusnya bersukacita bersama mereka. Dengan cara itu mereka akan mampu menangkap maksud sebenarnya pemilik kebun itu: Ia ingin supaya kelompok terakhir itu pun mendapat upah penuh.