130. Hamba yang tidak berbelas kasih – Mat 18:23-35 (5/5)

Menyerahkan kepada algojo-algojo – 18:34
Orang Yahudi yang ditahan, tidak boleh disiksa, walaupun aturan ini sering dilanggar oeh para penguasa tertentu, khususnya oleh Raja Herodes Agung. Namun, siksaan dipraktikkan oleh semua bangsa di luar Yahudi.

Sampai ia melunasi seluruh utangnya – 18:34
Pada hamba yang jahat ini diterapkan apa yang dia tuntut dari sesamanya yang berutang 100 dinar kepadanya. Tetapi hamba ini tidak mungkin membayar utangnya, sehingga ia dipenjarakan seumur hidup.

Akan diperbuat – 18:35
Ayat ini berperan sebagai penutup perumpamaan dan sekaligus sebagai kesimpulan.

Mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu – 18:35
Pengampunan harus asli, sejati, penuh, sebab pengampunan macam ini saja dapat muncul dari dalam hati. Suatu ketika Yesus berbicara tentang ibadah. Sambil mengutip Yes 28:13, Ia berkata, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripada-Ku” (Mat 15:8). Ibadah bibir harus diganti dengan ibadah hati. Allah menghakimi manusia menurut hatinya, sebab pengampunan sejati lahir dalam hati saja.
Matius adalah pengarang Injil yang menyajikan semacam teolog Gereja. Ia sangat menekankan pentingnya hierarki dalam Gereja dengan Petrus sebagai batu karangnya (Mat 16:16-18). Namun, ia menegaskan pula bahwa persaudaraan antar anggota-anggota Gereja berlandaskan Bapa surgawi, “Hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga” (Mat 23:9). Gereja seharusnya menjadi komunitas saudara-saudara yang saling mengaihi dan saling mengampuni. Barangkali inilah inti wejangan gerejawi Mat 18.