129. Hamba yang tidak berbelas kasih – Mat 18:23-35 (4/5)

Bukankah engkau pun harus mengasihani – 18:33
Ayat ini berisi “kunci” seluruh perumpamaan ini! Dilihat dari sudut keadilan semata-mata, hamba yang jahat itu memang berhak memenjarakan sesamanya yang berutang kepadanya. Namun, karena utangnya yang begitu luar biasa telah dibatalkan oleh rajanya, ia wajib melupakan haknya itu. Raja tidak mengadili hamba-hambanya berdasarkan keadilan melulu,melainkan juga berdasarkan ibanya terhadap mereka. Karena itulah ia berkata, Seperti aku telah mengasihani engkau. Pengadilan raja melampaui segala patokan yuridis. Ia menempatkan diri pada tingkatan kasih dan pengampunan, karena ia tergerak oleh iba dan belas kasih. Justru kemurahan hati, belas kasihan, kerahiman adalah salah satu hukum fundamental yang memungkinkan manusia masuk ke dalam kerajaan Surga, “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beoleh kemurahan” (Mat 5:7).
Kata Yunani eleein, yaitu “mengasihani/berbelas kasih” berperanan penting dalam Injil Matius. Orang-orang buta, tanpa mempedulikan reaksi khalayak, berseru kepada Yesus, “Kasihanilah kami, Tuhan, Anak Daud!” (Mat 20:30); wanita Kanaan berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud!” (Mat 15:22); ayah dari anak yang sakit ayan berseru serupa, “Tuhan, kasihanilah anakku!” (Mat 17:15). Namun, menurut Matius, orang yang menyerukan belas kasihan, harus berlaku dengan penuh belas kasihan terhadap sesama. Belas kasihan adalah kewajiban setiap pengikut Yesus dan menjadi ciri khas agama Kristen. Seorang Farisi berkorban banyak, tetapi hatinya “dingin” terhadap pendosa.
Sangat menarik bahwa kata eleos, yaitu “belas kasihan/kasihan” tiga kali dalam Injil Matius disebut dalam konteks polemik dengan kaum Farisi. Melihat Yesus makan dengan para pendosa, orang-orang Farisi menegur murid-murid Yesus. Tetapi Yesus membela para murid-Nya, sambil mengutip nas dari kitab Hosea (6:6), “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan, dan bukan persembahan”! (Mat 9:13). Kutipan ini terulang lagi dalam Mat 12:7. Orang-orang Farisi kaget melihat murid-murid Yesus memetik buir gandum pada hari Sabat. Yesus menanggapi mereka dengan berkata, “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan.”
Untuk ketiga kalinya, Yesus menegaskan pentingnya belaskasihan dalam 23:23, “Celakalah kamu …, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis, dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan.”
Jadi, menurut Injil Matius, belas kasihan ialah keseluruhan kebaikan yang mengampuni, khususnya mereka yang dicap sebagai “pendosa.” Yesus datang ke bumi ini bukan untuk memanggil orang-orang benar, malainkan para pendosa. Maka, dapat dikatakan bahwa belas kasihan sejati datang dari surga ke bumi melalui Yesus. Dialah “Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa” (Ibr 2:17). Setelah datang, “hukum” belas kasih harus diterapkan pula oleh manusia terhadap setiap sesamanya. Orang yang berbelas kasih mempercepat Kerajaan Surga. Orang yang tidak mau berbelas kasih, mengucilkan dirinya sendiri dari Kerajaan Surga. Orang yang hanya berpegang pada keadilan, tidak dapat dipandan benar secara lengkap. Gagasan ini dapat dijumpai dalam doa Bapa Kami (Mat 6:12-15) dan dalam ucapan Yesus, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi, dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Mat 7:1+).