127. Hamba yang tidak berbelas kasih – Mat 18:23-35 (2/5)

Tidak mampu melunaskan utangnya – 18:25
Memang, hamba itu tidak mungkin membayar uang sebanyak itu. Menurut Flavius Yosefus, pada tahun 4 sM, seluruh penduduk Galilea dan Perea berhasil mengumpulkan 200 talenta dalam rangka pembayaran pajak. Herodes Agung selama setahun tidak pernah berhasil mengumpulkan lebih banyak uang daripada 900 talenta!

Supaya ia dijual – 18:25
Menurut hukum yang berlaku di kalangan Yahudi, seorang Yahudi boleh dijual karena telah mencuri dan tidak dapat mengembalikan apa yang dicurinya (Kel 22). Namun, orang yang berutang dan yang tidak dapat melunasinya, tidak boleh dijual, apa lagi istri dan anak-anaknya! Jadi, dalam perumpamaan ini diterapkan hukuman bukan Yahudi untuk lebih merangsang imajinasi pendengar/pembaca teks ini.
Raja itu tidak beruntung apa-apa dengan menjual hambanya serta keluarganya itu (dari penjualan itu ia memperoleh sekitar 500 hingga  2000 dinar saja!), sehingga tindakannya harus diartikan sebagai balas dendam belaka. Lebih-lebih karena ia menjual pula anak-anak hambanya itu.
Lewat ungkapan-ungkapan ini mau ditegaskan kerasnya hukuman, dan sekaligus ketidakberdayaan manusia sebagai orang yang berutang kepada Allah. Biarpun manusia berkorban sehabis-habisnya, utangnya tetap jauh lebih besar daripada pengorbanannya.

Sujudlah hamba itu – 18:26
Hamba itu menjatuhkan dirinya dan dengan dahinya menyentuh lantai.

Menyembah dia – 18:26
Hamba itu berlaku seperti anjing yang merasa bahwa tuannya marah. Anjing itu mendekati tuannya, berbaring, sambil menunjukkan “penyesalannya” dengan cara yang dapat membangkitkan rasa iba.

Sabarlah dahulu – 18:26
Aslinya, ‘Tunjukkanlah kebesaran jiwa!.” Ungkapan ini biasanya diterjemahkan sabarlah, atau “berilah (aku) waktu.”

Segala utangku akan kulunasi – 18:26
Ucapan hamba ini pun tidakmasuk akal, sebab it tidak pernah akan mampu membayar utangnya.