126. Hamba yang tidak berbelas kasih – Mat 18:23-35 (1/5)

(bacalah perikop ini terlebih dahulu dengan baik dan cermat!)

Sebab hal Kerajaan Surga – 18:23
Dalam bunyi aslinya, ayat ini dibuka begini: Karena itulah Kerajaan Surga. Yesus seolah-olah menyambung bicara-Nya, sambil berkata, “Itulah kata-Ku kepada kalian, karena Kerajaan Surga serupa dengan yang diberitakan dalam perumpamaan ini.” Dengan kata lain: Anda mau tahu alasan, mengapa Anda harus mengampuni sesama?

Seumpama seorang raja – 18:23
Yesus tidak membandingkan Kerajaan Allah dengan seorang raja, melainkan dengan situasi yang digambarkan dalam perumpamaan ini. Dalam ayat-ayat selanjutnya, kata raja diganti dengan kata tuan. Maka, disimpulkan bahwa dalam ayat 23 ini pun aslinya tidak disebut raja melainkan tuan. Kata raja diganti dengan kata tuan. Kata raja dalam ayat ini barangkali berasal dari seorang penyalin yang ingin mengarahkan perhatian pembaca perumpamaan ini pada sang raja yang berkuasa dalam Kerajaan Surga.

Mengadakan perhitungan – 18:23
Mengadakan perhitungan dalam arti memeriksa/mengecek keuangan.

Dengan hamba-hambanya – 18:23
Aslinya bukan hamba-hamba melainkan budak-budak. Namun, dari keseluruhan perumpamaan ini mudah disimpulkan, bahwa mereka yang dalam perumpamaan ini disebut “budak” itu sesungguhnya berstatus tinggi, mirip pegawai. Mereka adalah orang kepercayaan raja, karena uang yang mereka urus, luar biasa banyaknya!

Setelah ia mulai mengadakan perhitungan – 18:24
Artinya, ‘setelah mulai memeriksa keuangan,’ paling dulu …

Dihadapkanlah kepadanya – 18:24
Hamba yang dibawa untuk menghadap raja barangkali dibawa kepadanya dari penjara.

Berutang sepuluh ribu  talenta – 18:24
Di zaman itu, 10.000 adalah angka tertinggi yang dipakai dalam perhitungan.
Talenta adalah mata uang yang paling bernilai. Sepuluh ribu talenta merupakan suatu jumlah fantastis (milyaran dolar!), hampir tak terbayangkan. Satu talenta senilai upah seorang pekerja selama 15 tahun!  Hampir tidak masuk di akal bahwa seorang raja Timur Dekat zaman itu memiliki uang sebanyak itu, lagi pula mempercayakannya kepada seorang pegawainya!
Dalam arti apa hamba itu berutang kepada tuannya? Ia pasti tidak meminjamnya, sebab buat apa? Ia pasti menggelapkannya. Namun, alasan ini pun tidak masuk di akal, sebab korupsi semacam ini sulit dibayangkan. Maka, angka ini dilebih-lebihnyak dengan sengaja, antara lain untuk dikontraskan dengan 100 dinar yang disebut dalam ayat  28 nanti. Boleh juga dikatakan bahwa jumlah uang ini bermakna “teologis”: Di hadapan Allah, manusia adalah orang berutang tanpa kemungkinan membayarnya kembali. Manusia adalah “budak yang tidak berjasa” (Luk 17:10).