120. Saudara yang berdosa – 18:15-17 (3/3)

Tidak mau mendengarkan mereka – 18:17
“Komisi” kecil yang dibentuk dalam perkara si pendosa, dapat saja gagal dalam tugasnya. Sebab si pendosa bisa saja tidak mau mendengarkan mereka.

Sampaikanlah soalnya kepada jemaah – 18:17
Inilah usaha ketiga dan final demi tercapainya rekonsiliasi. “Dosa” yang dilakukan saudara tertentu itu menjadi skandal publik, sehingga membahayakan seluruh komunitas Kristen setempat (Mat 18:8+). “Dosa” itu harus “dicabut” dari dalam komunitas supaya jangan mengganggu perkembangannya. Namun, sebelum itu terjadi, si pendosa harus dihadapkan kepada seluruh komunitasnya.
Dengan menggunakan kata jemaah (Y: ekkesia), Matius tidak memikirkan seluruh Gereja, melainkan jemaah setempat saja, sesuai dengan kebiasaan bicara zaman itu yang dapat dilacak dalam Kisah Para
Rasul, dalam surat-surat
Rasul Paulus dan dalam tiga bb pertama kitab Wahyu. Namun, dalam kitab-kitab Injil, arti kata ini muncl sekali saja, justru di sini.
Prosedur yang diusulkan dalam teks ini, di zaman sekarang ini sulit sekali diterakan pada pendosa yang menimbulkan skandal. Namun, dari teks ini perlu dipertahankan sesuatu yang amat pokok, yaitu: Gereja harus berani melindungi saudara-saudar “yang bersahaja” terhadap berbagai skandal yang terjadi akibat tingkah laku seorang anggota ataupun sekelompok anggota jemaah. Namun, jemaah tidak boleh pula menghakimi mereka seenaknya (Mat 7:3-5).

Tidak mau juga mendengarkan jemaah – 18:17
Ketiga langkah yang sudah diambil, dimaksudkan sebagai usaha menyadarkan si pendosa. Selanjutnya si pendosa sendiri harus mengambil keputusan. Kalau ia mengambil keputusan untuk “memisahkan diri” dari jemaah, maka jemaah terpaksa pula mengambil langkah resmi berupa pemutusan hubungan.
Dalam teks ini, “pemutusan hubungan” itu digambarkan secara analogis …
Pandanglah dia sebagai orang yang tidak mengenal

Allah atau seorang pemungut cukai – 18:17
Matius menulis Injilnya bagi orang-orang Kristen asal Yahudi, maka ia mengemukakan analogi yang mudah mereka pahami: Si pendosa harus dikucilkan oleh jemaah, sebagaimana sinagoga Yahudi ataupun Mahkamah Agama Yahudi mengucilkan para pengikut Kristus (Luk 6:22; Yoh 9:22; 16:2). Pengucilan ini amat luas dan berat akibatnya, justru karena searti dengan tercabutnya dari komunitas persatuan umat.
Orang tidak mengenal Allah (aslinya: kafir) searti dengan “orang tidak beriman” (Mat 5:47).
Tentang pemungut cukai >Mat 5:46.
Ungkapan tentang memperlakukan pendosa sebagai “orang kafir” atau “pemungut cukai” diartikan dengan dua cara, yaitu: (1) Jangan menyibukkan diri lagi dengannya, sebab Anda tidak bertanggung jawab lagi; (2) Hanya Yesus sendiri saja yang masih bisa mempertobatkan si pendosa.
Arti kedua ini kiranya lebih tepat. Yesus menerima para pemungut cukai dengan tangan terbuka, namun hanya kalau mereka menunjukkan iman dan sesal (Mat 9:9-13).