Minggu, 10 Oktober 2021 ; PB XXVIII

B-314 – Keb 7:7-11 – “Dialah yang lebih kuutamakan dari pada tongkat kerajaan dan takhta, dan dibandingkan dengannya kekayaan kuanggap bukan apa-apa” (ay 8)

MENGENAL KENYATAAN DENGAN SEBAIK-BAIKNYA

  1. Dalam abad pertama sebelum Masehi, kota Aleksandria menjadi pusat utama perkembangan intelektual dan ilmiah negara-negara yang terletak di sekitar Laut Tengah. Di kota tersebut tinggal banyak orang Yahudi. Para bijak Yahudi berusaha mengadakan kontak nyata dengan dunia Yunani.
  2. Diresapi kebudayaan Yunani, penyusun kitab Kebijaksanaan amat tertarik pada soal keseimbangan wujud, keindahan benda, kecemerlangan cahaya (ay 10). Ia ingin tahu, unsur manakah yang lebih utama.
  3. Namun sewaktu menyelelidiki persoalan ini, ia menyadari pula bahwa pengetahuan ini sama sekali tidak berarti, bila tidak disertai usaha untuk memahami, apakah sebenarnya makna kehidupan manusia. Apa gunanya suatu pengetahuan, bila manusia tidak memiliki pengertian mendalam tentang kenyataan yang sesungguhnya (ay 7), yang menggerakkan segala enersi manusiayang paling batiniah dan sekaligus diberikan Tuhan kepada manusia dalam doa (ay 7). Pengertian sedemikian merupakan hasil paling berharga dari kebijaksanaan Allah yang memberikan diri-Nya kepada manusia.

Mrk 10:17-30 – “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah”