107. Sabda Yesus kepada murid-murid-Nya – 16:24-27 (1/3)

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya – 16:24
Dalam ayat 24-27, Yesus bicara kepada semua murid-Nya, bukan kepada Petrus saja. Maka, ajaran-Nya berlaku bagi semua oroang yang mengikut Yesus.

Jika seseorang mau mengikut Aku – 16:24
Mengikut Yesus bukan perkara mudah dan dangkal (Mat 4:20).
Harap diperhatikan bahwa setiap ucapan Yesus yang tercantum dalam ayat 24-25 dan 27 berpusatkan Yesus sendiri. Yesus tidak menuntut pengorbanan apa-apa, kecuali demi diri-Nya. Masing-masing ucapan itu berkaitan dengan sengsara Yesus. Justru sengsara Yesuslah menjadikan sengsara para pengikut-Nya sesuatu yang wajar. Dalam sengsara para pengikut-Nya, sengsara Yesus diaktualkan sepanjang masa.

Harus menyangkal dirinya – 16:24
Dalam ayat 24 ini terdapat tiga kata kerja: Menyangkal diri, memikul (salib), mengikut (aku). Ini bukan pertama—tama syarat-syarat yang harus dipenuhi orang untuk menjadi pengikut Yesus, melainkan unsur-unsur konstitutif/dasariah eksistensi manusia sebagai “pengikut Yesus.”
Ucapan menyangkal diri mengacu kepada sikap radikal manusia untuk sepenuh-penuhnya menaati kehendak Allah. Seorang pengikut Yesus tidak boleh menjalani hidup dengan berpusat pada dirinya sendiri, tetapi harus melupakan dirinya, tepat sama seperti Yesus melupakan diri-Nya. Ia memutuskan hidup “bebas demi orang-orang lain.”
Ini bukan suatu perubahan moral semata-mata, melainkan suatu pertobatan pribadi dan teologis. Pertobatan pribadi, sebab sangat radikal, mutlak: Kepentingan Kristus menjadi pusat kehidupan manusia. Pertobatan teologis, sebab menerima rencana Allah sebagaimana adanya. Jadi, bukan hanya menempatkan Allah sebagai pusat segala-galanya, melainkan mengubah cara memandang Allah dan kasih-Nya. Allah buatan sendiri, Allah harapan pribadi, Allah cita-cita sendiri harus ditolak setegas-tegasnya untuk menerima Allah yang sama sekali “lain” daripada yang dapat diduga. Allah yang menawarkan kasih yang tak terbayangkan, yaitu kasih yang melewati salib.

Memikul salibnya – 16:24
Memikul salib atau tepatnya “mengangkat palang” dalam konteks ini searti dengan, “Pengikut Yesus tidak boleh lari dari kematian yang paling mengaibkan sekalipun ataupun mencoba mengelakkannya!” Ia harus melupakan keamanan pribadi untuk mengikut Yesus yang membawa murid-murid-Nya kepada ketidakamanan yang paling radikal.

Mengikut Aku – 16:24
Mengikut Yesus berarti “berjalan di belakang Yesus historis.” Tentu saja maksudnya bukan berjalan secara lahiriah saja, melainkan melekat kepada-Nya secara batiniah. Ini mengandaikan adanya suatu panggilan dari pihak Allah dan tanggapan dari pihak manusia. Intisarinya ialah berpartisipasi dalam keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus, malah mengambil bagian dalam “nasib” Yesus (yang digambarkan dalam teks ini), artinya “berkomuni” dalam kehidupan dan sengsara Yesus.
Pengikut masa kini harus ingat akan Yesus historis dan mengikut Yesus yang historis itu, yaitu yang pernah disengsarakan dan disalibkan. Inilah intisari eksistensi sebagai pengikut Yesus.