149. Iman Besar Perempuan Kanaan (Mat 15:21-26)

Dua versi kisah ini
Kisah Matius ini dengan cukup setia mengikuti kisah Markus tentang wanita Siro-Fenisia (7:24-30), sehingga keduanya tampak sejajar. Keduanya disusun dengan cara yang sama dan termasuk jenis sastra yang sama. Namun, keduanya tetap berbeda.
Dilihat dari sudut sastranya, kisah versi Matius tampak sangat “meriah,” mirip semacam liturgi, sedangkan kisah versi Markus justru sederhana sekali. Matius tidak menonjolkan mukjizat yang terjadi melainkan dialog antara Yesus dengan wakil seorang perempuan Kanaan yang menyapa Yesus secara kuno, menurut model PL (ay 22). Muncul pula ungkapan “umat Israel” (ay 24). Permohonannya bernada liturgis juga (ay 22.25), dan hal yang sama dapat dikatakan tentang ucapan murid-murid Yesus (ay 23). Justru karena unsur –unsur itu, kisah Matius jangan dibaca sebagai laporan belaka, bahkan bukan sebagai narasi biasa, padahal justru itulah ciri khas kisah Markus.
Dilihat dari sudut isi, kisah Matius menegaskan sasaran misi Yesus, yaitu bangsa Yahudi (ay 24.26) dan sekaligus iman perempuan kafir. Yesus mengabulkan permohonannya, tetapi sebagai kekecualian saja (ay 28). Markus tidak “sekeras” Matius. Ia hanya menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi menjadi perhatian pertama Yesus, sedangkan orng-orang kafir – perhatian kedua.
Matius menulis Injilnya untuk umat Kristen Yahudi, sehingga ia tidak mau menonjolkan peranan (mantan) orang-orang kafir dalam Gereja. Ia memperhitungkan perasaan sidang pembacanya.

Pembagian teks ini
Seluruh kisah ini secara rinci dapat dibagi sebagai berikut:
15:21         Pengantar;
15:22-23a  Permohonan I wanita Kanaan dan bungkamnya Yesus;
15:23b-24  Intervensi murid-murid dan jawaban Yesus;
15:25-26    Permohonan II wanita itu dan jawaban Yesus;
15:27-28a  Ucapan III wanita dan jawaban final Yesus;
15:28b       Mukjizat (tidak diceritakan).

Leave a Reply