144. Yesus berjalan di atas air (14:24-27)

Perahu … beberapa mil jauhnya – 14:24
Dalam teks asli tidak disebut beberapa mil, tetapi “beberapa stadion.” Satu stadion sama dengan 185 m. Danau sendiri selebar 12 km. Jadi, perahu itu sudah cukup jauh dari pantai.

Diombang-ambingkan gelombang – 14:24
Kata diombang-ambingkan muncul pula dalam Mat 8:6. Perhatian Matius terarah pada perahu yang dalam bahaya, bukan pada murid-murid (berbeda dengan Markus!). Karena itu, dalam Injil Matius, perahu itu dipandang sebagai lambang Gereja yang sering kali menghadapi bahaya (Mat 8:23 dan 15:39).
Situasi yang digambarkan dalam kisah ini layak direnungkan. Malam. Yesus jauh. Angin kencang … Pada awal karya-Nya di hadapan umum, terjadi situasi serupa. Hal ini diceritakan dalam Injil Markus. Sesudah bekerja sepanjang hari, pada saat bumi masih dinaungi kegelapan, Yesus diam-diam pergi ke tempat sepi untuk berdoa. Murid-murid tampaknya panik, namun mereka berhasil menemukan Yesus (Mrk 1:35-38).
Unsur-unsur yang sama dapat dijumpai dalam kisah Matius tentang peredaan taufan (Mat 8:24-27), dalam kisah ini, dan dalam kisah tentang Yesus di Taman Getsemani (Mat 26:36-39). Yesus berjalan di atas air sesudah memperganda roti. Yesus berdoa di Getsemani sesudah mengadakan ekaristi. Pergandaan roti menjadi pralambang ekaristi. Inilah makanan manusia yang berjalan dalam kegelapan iman!

Karena angin sakal -14:24
Dalam kisah ini angin sakal dapat diartikan sebagai lambang kuasa-kuasa yang memusuhi dunia manusia.