143. Yesus di bukit (14:23)

Naik ke atas bukit – 14:23
Penjelasan tentang bukit (aslinya gunung) bacalah keterangan pada Mat 5:1
Kata gunung dalam kitab-kitab Injil pada umumnya mengacu kepada perbukitan. Bagi bangsa Yahudi zaman dulu, gunung/bukit hampir searti dengan tempat sunyi/sepi. Matius suka menempatkan Yesus di gunung/bukit. Waktu dicobai Iblis, Yesus dibawa ke gunung (Mat 4:8). Yesus menyampaikan sabda-sabda bahagia-Nya di gunung (Mat 5:1). Ia berubah rupa di gunung (Mat 17:1), dan sesudah bangkit, Ia menampakkan diri-Nya di gunung di Galilea (Mat 28:16).
Gunung mengingatkan Musa. Sama seperti Musa dulu, Yesus pun harus didengarkan (Mat 17:5.8).
Selain itu, gunung adalah tempat manifestasi Allah, tempat perjumpaan dengan Allah dan sekaligus tempat doa (Kel 19:20; 1Raj 19). Hal ini ditegaskan secara khusus dalam Injil Lukas.

Untuk berdoa seorang diri – 14:23
Sesudah memperganda roti, Yesus ingin berbicara dengan Bapa-Nya di tempat yang sunyi. Kalau memang benar bahwa orang banyak mau mengangkat Yesus sebagai raja, maka keinginan mereka tidak berbeda dengan godaan dari pihak Iblis (Mat 4:5-7). Khalayak tertarik sekali pada kejadian-kejadian ajaib, padahal menurut Rencana Allah, Yesus harus berhasil melalui derita sengsara dan salib. Maka, Yesus bersujud di hadapan Bapa yang mengutus-Nya sambil merenungkan makna misi-Nya. Kata-kata Matius, “Ia naik gunung untuk berdoa seorang diri” dapat dipandang sebagai semacam deskripsi doa Yesus.

Menjelang malam, Ia sendirian di situ – 14:23
Matius bicara tentang menjelang malam. Malam mengingatkan kegelapan. Yesus, Terang dunia, menghadapi malam yang gelap.