133. Perumpamaan tentang jala (13:47-50)

Kerajaan Surga itu seumpama – 13:47
Bacalah komentar pada Mat 13:44

Jala – 13:47
Di sini maksudnya jala (pukat) berukuran besar yang ujung-ujungnya dilengkapi dengan pelampung dan yang akhirnya ditarik ke pantai oleh beberapa penjala.

Laut – 13:47
Matius memakai kata laut, tetapi maksudnya danau.

Mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan – 13:47
Kata ikan tidak muncul dalam kalimat ini, namun diandaikan.
Ungkapan berbagai-bagai jenis menekankan tercampurnya ikan yang dapat dan yang tidak dapat dimakan. Semua jenis itu tertampung dalam jala.

Yang tidak baik mereka buang – 13:48
Kata tidak baik (aslinya: rusak) tidak mengacu kepada ikan “rusak” atau “busuk” melainkan kepada ikan yang menurut hukum Taurat “tidak untuk dimakan,” sebab dianggap “najis.”

Akhir zaman  – 13:49
Bacalah komentar pada Mat 13:39.
Ungkapan, Demikianlah juga pada akhir zaman, sudah muncul dalam Mat 13:39 dan 40. Ini suatu ungkapan khas Matius!

Malaikat-malaikat akan datang – 13:49
Para malaikat akan datang (aslinya keluar), yaitu meninggalkan surga, sesuai dengan perintah Allah, untuk memisahkan orang-orang jahat dari orang-orang yang baik.
Dalam ayat ini tidak disebut para penjala lagi; mereka diganti dengan para malaikat (ay 39-410), sehingga merekalah yang wajib menyingkirkan kaum jahat (ay 41) dan mencampakkan mereka ke dalam tungku berapi.

Memisahkan – 13:49
Dalam ayat ini Matius agaknya menggambarkan penghakiman Allah terhadap komunitas Kristen, bukan terhadap segenap umat manusia. Dalam komunitas itu ada dua kelompok yang sama –sama mengaku diri umat Allah. Namun, ini bukan alasan bahwa kedua kelompok itu tidak akan disaring oleh Allah.

Orang benar – 13:49
Matius secara konsisten menerapkan kata benar ini pada orang yang taat kepada Allah dan hidup sesuai dengan tuntutan-Nya.

Mencampakkan – 13:50
Ayat ini merupakan ulangan ayat 42.

Tugku berapi – 13:50
Dalam ayat ini disebut tungku berapi, padahal para penjala tidak membuang ikan ke alam api. Tetapi, tungku berapi disebut dalam perumpamaan tentang lalang. Maka, di sini tampaklah semacam perubahan perspektif. Melalui perumpamaan tentang jala/pukat, Yesus berusaha menjelaskan situasi aktual, yaitu kenyataan berupa tercampurnya orang-orang yang baik dengan orang-orang yang jahat. Tetapi, dalam penjelasannya, Matius memperhatikan nasib buruk para pendosa saja. Dalam perumpamaan ditekankan kesabaran Allah yang tampak dalam sikap Yesus terhadap para pendosa. Dalam penjelasan ini ditegaskan bahwa Allah akan bertindak terhadap para pendosa menurut keadilan-Nya.
Dalam penegasan serius ini terasa nada peringatan penyusun Injil Matius yang tampil sebagai guru agama. Ia merasa ngeri memikirkan nasib mereka yang mendengarkan sabda Tuhan tetapi sabda itu tidak berbuah dalam diri mereka. Maka, ia memperingatkan mereka bahwa semua orang akhirnya akan diadili menurut kelakuannya (Mat 16:27).