132. Perumpamaan tentang mutiara (Mat 13:45-46)

Demikian pula hal – 13:45
Adanya kata pula dalam ayat ini merupakan petunjuk bahwa perumpamaan tentang harta di ladang dan tentang mutiara saling berkaitan. Keduanya mau menegaskan hal yang sama.

Seorang pedagang – 13:45
Kata pedagang ini muncul di sini dan 4 kali dalam kitab Wahyu saja. Tidak jelas, apakah pedagang itu mencari mutiara itu untuk menjualnya lagi dengan mendapat keuntungan besar, ataupun untuk menyimpannya demi menambah koleksinya. Para ahli cenderung memilih kemungkinan kedua.

Mutiara – 13:45
Semasa kehidupan Yesus, mutiara merupakan barang yang amat berharga. Dalam Why 18:12, mutiara dimasukkan ke dalam daftar barang-barang dagangan yang mencakup emas, perak dan batu mulia.

Yang indah – 13:45
Aslinya: Yang mahal, bernilai tinggi.
Banyak orang yang membaca perumpamaan tentang harta di ladang dan mutiara ini cenderung berpikir bahwa perhatian Yesus di dalamnya terpusat pada Kerajaan Allah yang nilainya tertinggi. Tetapi, perlu disadari bahwa bukan harta dan mutiara, melainkan sikap dan tindakan orang yang menemukannya menjadi perhatian utama perumpamaan ini. Berhadapan dengan karya Yesus, para saksi sungguh beruntung: Mereka dapat memperoleh keuntungan besar.
Pada saat Yesus berbicara, Kerajaan Surga hadir, dan manusia harus berbuat apa saja untuk tidak kehilangan peluang emas ini. Apa yang diharapkan oleh Yesus dari para pendengar-Nya? Mereka seharusny menanggapi amanat-Nya! Tentu saja tanggapan itu akan berbeda-beda pada manusia yang berlain-lainan. Namun, semua orang seharusnya memanfaatkan kesempatan supaya mereka dapat masuk ke dalam Kerajaan. Semuanya pantas ditinggalkan, asal yang satu ini jangan hilang. Manusia perlu melibatkan diri secara total demi memperoleh Kerajaan Surga. Maka, kedua perumpamaan ini dapat dipandang sebagai semacam ilustrasi kata-kata Yesus, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat!” (Mat 4:17).
Dilihat dari sudut keseluruhan konteks, kedua perumpamaan ini dikuasai oleh gegasan “penghakiman.” Si pekerja harian dan pedagang yang menjual segala-galanya ditonjolkan di sini sebagai model umat Kristen. Mereka begitu sibuk mencari Kerajaan Surga, sehingga semuanya yang lain dianggap tidak berarti.
Tidak dari semua orang dituntut supaya menjual seluruh hartanya. Namun, tidak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan sekaligus. Atau Allah atau Uang/Mamon (Mat 6:24). Nasib setiap orang pada saat penghakiman akan tergantung dari opsi pilihan mereka masing-masing.