123. Perumpamaan tentang lalang (Mat 13:24-20)

Datanglah hamba-hamba – 13:27
Hamba-hamba itu ialah para pembantu majikan yang menjadi miliknya karena – secara resmi – berstatus budak.

Tuan ladang itu – 13:27
Matius menggunakan kata Yunani oikodespotes sebanyak 5 kali (di sini dan dalam 10:25; 13:27; 20:11; dan 24:43), tetapi kata ini mencakup dua arti yang agak berbeda, yaitu: 1) Pemilik rumah/ladang; 2) Kepala keluarga.
Dalam ayat 24 perumpamaan ini hanya ditegaskan bahwa tuan rumah itulah yang menaburkan benih di ladangnya.

Tuan – 13:27
Dalam Injil Matius, kata sapaan ini ditujukan kepada Yesus oleh orang beriman saja.
Aslinya, arti kata ini biasa saja, yaitu tuan. Namun, karena Injil ditujukan kepada umat Kristen, maka artinya sering kali sama dengan Tuhan. Arti lain: Ketua, majikan,orang berwenang, tuan (besar), pemilik.

Bukankah – 13:27
Pertanyaan yang dibuka dengan kata bukankah, menuntut jawaban, “Ya!”

Dari manakah lalang itu – 13:27
Kalau pertanyaan ini diucapkan oleh para hamba saja,maka harus dipandang sebagai pernyataan rasa heran. Tetapi, kalau pertanyaan ini diajukan kepada Yesus oleh para murid-Nya, maka artinya khusus … Selaku penabur benih yang baik, Yesus bertanya, mengapa Ia membiarkan adanya “lalang” (=orang jahat, pendosa) diladang-Nya. Umat Kristen menampung macam-macam orang, yang baik maupun yang jahat. Selalu ada saja umat yang menganggap dirinya begitu “baik,” sehingga menolak adanya orang “jahat” dalam komunitas Kristen.

Seorang musuh yang melakukannya – 13:28
Ternyata tuan itu tidak mengenal identitas musuhnya, tetapi ia yakin bahwa adanya lalang di ladangnya dikaraenakan oleh seorang yang memusuhinya.

Maukah tuan … kami pergi mencabut lalang itu – 13:28
Aslinya ayat ini berbunyi, “Maukah Anda kami pergi mengumpulkannya?.” Kata “mengumpulkan” ini cocok untuk pekerjaan yang dilakukan pada waktu panen. Namun, dalam ayat 29 muncul kata mencabut, sehingga kata “mengumpulkan” langsung diganti dengan kata itu.

Biarkanlah keduanya tumbuh bersama – 13:29
Tuan itu tampaknya tenang. Tetapi, bukan demikianlah halnya dengan para hambanya.
Ucapannya harus diartikan sebagai himbauan untuk bersikap sabar dan toleran hingga saat penyaringan terakhir.

Sampai waktu menuai – 13:30
Ungkapan waktu menuai atau panen dalam Kitab Suci sering kali dipakai sebagai lambang penghakiman di akhir zaman (Mat 3:12+; 13:37; Yes 17:5; Yer 13:24).

Kumpulkanlah dahulu lalang – 13:30
Kata mengumpulkan muncul dalam perumpamaan ini sebanyak empat kali, sehingga pasti berkaitan dengan jemaah yang biasa berkumpul.

Para penuai – 13:30
Para penuai bukan para hamba yang disebut dalam ayat 27 dan 28.