121. Ketidakterdugaan Kerajaan Surga (Mat 13:24-43)

Perumpamaan tentang biji moster
Perumpamaan tentang biji moster dan ragi aslinya mungkin terpisah satu sama lain. Namun, Matius maupun Lukas menyatukannya. Dalam Injil Markus terdapat perumpamaan tentang ragi saja.
Matius tampaknya berusaha menegaskan kontras. Biji moster (bukan: sesawi!) begitu kecil, tetapi setelah berkembang, menjadi pohon. Begitulah pula halnya dengan Kerajaan Surga. Tahap awalnya biasa-biasa saja, bahkan sama sekali tidak menyolok. Tetapi, suatu hari Kerajaan itu akan tampak dengan segenap kecemerlangannya. Karya Allah melalui Yesus kelihatannya tidak hebat. Tetapi, suatu ketika pasti akan berakhir dengan kejayaan. Maka, manusia perlu menangkap Kerajaan Surga itu dalam sabda Yesus.
Makna yang serupa dapat ditemukan dalam perumpamaan tentang ragi. Amanat Injil, yang mula-mulanya tidak terlalu diperhatikan, lama-kelamaan berhasil “meragi” seluruh dunia.

Penjelasan perumpamaan tentang lalang.
Penjelasan perumpamaan tentang lalang disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya atas permintaan mereka sendiri. Bagian penutup penjelasan ini merupakan semacam apokalipsis kecil, sebab seluruh isinya terfokus pada nasib mengerikan orang-orang jahat. Dalam perumpamaan tentang lalang, Yesus sudah menghimbau supaya para murid-Nya sabar, rendah hati sampai menanti kedatangan Kerajaan Surga secara definitif.
Lewat kebangkitan-Nya, Yesus selaku Anak Manusia menerima segenap kuasa di surga maupun di bumi (Mat 28:18). Jadi, Kerajaan-Nya meliputi seluruh dunia, segala bangsa. Gereja adalah sakramen ataupun tanda Kerajaan Surga, tetapi tidak sama dengannya. Injil yang dimaklumkan di seluruh dunia (yang di tempat tertentu diterima dan di tempat lain ditolak) akan mandi alasan bagi Anak Manusia untuk menuntut haknya pada hari penghakiman. Sebagai Tuhan segala bangsa, Ia akan menyingkirkan dari Kerajaan-Nya semacam penyebab kemelut dan semua orang yang berlaku di luar hukum (ay 41).
Karena Gereja senantiasa, sampai akhir zaman, terdiri dari orang baik dan orang jahat, maka Gereja pun akan mengalami penghakiman itu. Apa pun panggilan masing-masing anggota Gereja, hendaknya mereka selalu tinggal dalam kebenaran. Pada hari penghakiman, semuanya yang manusiawi (status, pangkat, gelar) akan gugur. Yesus akan menggunakan satu kriterium saja untuk menilai manusia: Setia/tidak setia melaksanakan kehendak-Nya. Dengan kata lain, Ia akan memakai kriterium kasih