118. Penjelasan perumpamaan tentang penabur (13:18-23)

Yang ditaburkan di tanah yang baik – 13:23
Ucapan ini dalam teks aslinya dibuka dengan kata tetapi yang menandai perubahan besar (ay 8).

Yang mendengar firman itu dan mengerti – 13:23
Dalam Injil Matius sangat ditekankan masalah mengerti selain “melakukan.”
Hanya orang yang mengasihi Allah dengan sepenuh hati dan jiwa (sehingga siap mati di masa aniaya) dan kekuatan (tanpa terikat pada kekayaan), mendengar dan mengerti sabda Allah. Kegagalan-kegagalan terjadi karena ada yang tidak beres dengan hati, jiwa dan kekuatan. Seluruh hidup manusia harus terpusat pada kasih murni kepada Allah; melalui sarana-sarana rohani ini manusia mampu menerima dan mengerti sabda Allah.

Ia berbuah – 13:23
Bicara tentang manusia yang berbuah, terasa ganjil. Tetapi, maksudnya kiranya cukup jelas: Buah di sini harus diartikan sebagai “hal-hal yang baik,” entah perasaan, pikiran, perkataan, entah tindakan.

Ada yang seratus kali lipat … 13:23
Berbeda dengan perumpamaan sendiri, dalam penjelasan perumpamaan ini hasil dikaitkan bukan dengan benih melainkan dengan “jenis tanah.” Perhatian Matius tidak terpusat pada kenyataan bahwa hasilnya berbeda-beda tetapi pada alasan mengapa hasilnya itu berbeda-beda. Atau lebih tepat, perhatian Matius terpusat pada alasan-alasan mengapa dalam tiga kasus pertama terjadi kegagalan.
Alasannya ialah: Intervensi si jahat, tidak adanya ketahanan, kekhawatiran dan tipu daya kekayaan.
Matius justru ingin memperingatkan pembaca kitabnya, supaya wapada terhadap bahaya yang mengancam “panen” mereka. Sabda Tuhan harus diterima dengan sepenuh hati dan dipelihara secara benar. Maka, sampai dua kali ia bicara tentang mengerti (ay 19 dan 23). Menghasilkan buah dan paham saling berkaitan sehingga jangan dipisahkan satu sama lain.
Namun, perlu disadari bahwa bagi Matius, paham bukan masalah intelek saja. Justru karena itu ia dengan panjang lebar mengutip nubut Yesaya. Amanat yang didengar harus dihayati pula, diamalkan, dipaktikkan. Sebab amanat itu tidak pernah dapat dipahami tanpa itu.