112. Perumpamaan tentang penabur (13:1-9)

Jatuh di tengah semak duri – 13:7
Dalam teks aslinya tidak disebut semak melainkan duri-duri saja. Duri-duri itu tidak ada pada waktu penabur menaburkan benih, tetapi tumbuh di kemudian hari, karena akar-akarnya yang lama belum dicabut, ataupun karena tumbuhnya semak duri yang baru.
Semak duri biasanya tumbuh cepat sekali dan merupakan gangguan besar bagi tanaman apa saja. Justru karena tumbuh cepat, maka duri-duri itu menghimpit tanaman muda itu.

Jatuh di tanah yang baik – 13:8
Tanah yang baik ialah tanah yang subur, cukup dalam dan bebas dari akar-akar duri.

Lalu berbuah – 13:8
Kata buah mengacu kepada banyaknya butir-butir gandum/jelai.
Tujuan utama perumpamaan ini ialah mengarahkan perhatian pembacanya pada hasil yang digambarkan dalam ayat ini. Inilah mukjizat Allah! Masing-masing butir yang ditaburkan dulu dan yang tumbuh tanpa gangguan, menghasilkan butir-butir baru. Ada yang menghasilkan tiga puluhm enam puluh, bahkan seratus butir baru.
Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar – 13:9
Untuk pertama kalinya ucapan ini muncul dalam 11:15, lalu terulang dalam 13:43. Ini sebuah ajakan untuk memperhatikan apa yang dikatakan, merenungkannya, lalu menghayatinya. Para pendengar harus berpartisipasi, supaya perumpamaan yang disampaikan kepada mereka menghasilkan sesuatu yang bernilai.
Penjelasan perumpamaan ini tersaji dalam ayat 18:23. Tetapi, kiranya berguna disadari bahwa penabur dalam perumpamaan ini mengacu kepada Allah atau Yesus atau seorang utusan Allah, atau bahkan Kebijaksanaan.
Benih ialah wahyu atau Kerajaan Allah. Tanah yang berkualitas berbeda-beda menggambarkan cara manusia menerima “benih” yang ditaburkan dalam hati mereka.
Amanatnya: Biarpun mengalami kegagalan-kegagalan, pekerjaan si penabur akhirnya berhasil juga. Tanda keberhasilannya ialah buah yang dihasilkan oleh para penerima benih. Jadi, pada dasarnya, perumpamaan ini bernada optimistis dan mengajak untuk bersemangat.