111. Perumpamaan tentang penabur (13:1-9)

Sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan – 13:4
Di pinggiran ladang-ladang Palestina tidak jarang ada jalan setapak. Ada juga yang melintasi ladang (Ul 23:25; Mat 12:1).
Walaupun kata benih tidak disebut dalam teks, pokok utama teks ini ialah benih.
Perumpamaan ini sering diberi judul “Perumpamaan tentang ladang dan empat jenis tanah.” Namun, yang terpenting bukan jenis tanah, melainkan justru benih. Hal ini menjadi jelas sekali dalam ayat 8. Jadi, perumpamaan ini bertujuan memusatkan perhatian pembacanya pada benih dan berbagai macam hasilnya seturut tanah, tempat benih itu jatuh. Tiga kali benih itu gagal tumbuh, tetapi sekali justru menghasilkan buah. Kegagalan sebanyak tiga kali itu terkompensasi oleh keberhasilan akhir.
Mendengar cerita tentang kegagalan itu, pendengar mungkin saja berkesan bahwa sia-sialah pekerjaan si penabur. Namun, pada akhir ia mendengar berita menggembirakan. Sebab hasil akhir sungguh di luar dugaan!
Yesus bicara sesuai dengan perasaan hati para pendengar-Nya. Ia menghimbau: Biarpun seluruh karya-Ku tampaknya gagal atau sia-sia di mata sejumlah orang, kalian tidak boleh putus asa, justru sebaliknya, kalian seharusnya percaya bahwa akhir karya-Ku akan menggembirakan.

Datanglah burung dan memakannya – 13:4
Sebenarnya Matius menggunakan di sini kata menghabiskan, bukan “makan.” Burung-burung itu makan cepat, dengan semangat, sampai tidak ada benih yang tertinggal.

Jatuh di tanah yang berbatu-batu – 13:5
Kata Yunani petrodes dapat berarti tanah penuh batu atau lapisan tanah tipis di sebuah cadas. Sebagian besar tanah di Israel memang berbatu-batu, sedangkan tanahnya tipis.

Sesudah matahari terbit, layulah – 13:6
Yang layu bukan benih sendiri, melainkan tunas/tanamannya. Mula-mulanya matahari mempercepat pertumbuhan benih, tetapi akhirnya menyebabkan layunya tumbuhan muda.

Menjadi kering karena tidak berakar – 13:6
Akar tumbuhan muda itu lemah dan tidak dalam, sehingga tumbuhan itu mengering akibat sinar matahari.