98. Siapakah Yesus (11:2-6)

Tidak menolak Aku – 11:6
Terjemahan yang lebih tepat: Yang tidak menaruh syak wasangka terhadap Aku.
Dalam arti aslinya, kata skandal yang muncul dalam ungkapan Yunani ini, mengacu kepada suatu perangkap, jebakan. Jebakan itu sendiri pun kadang-kadang dinamakan “skandal,” dalam arti harfiah maupun kiasan. Tetapi, setelah dipakai dalam Kitab Suci, kata itu diperluas artinya dan diterapkan pada macam-macam rintangan di jalanan, khususnya batu yang dapat menyebabkan jatuhnya pejalan. Maka “skandal” ialah segala sesuatu yang berisiko menghasilkan kejatuhan. Secara metaforis – kejatuhan moral atau religius. Dalam kitab-kitab Injil arti metaforis ini biasanya muncul dalam antitesis yang bicara tentang “skandal” dan iman; terjadilah skandal kalau seseorang tidak sampai percaya atau gugur imannya.
Dalam ayat ini Yesus bicara secara umum. Ia memang tidak menyebut siapa-siapa, tetapi sangatlah jelas bahwa amanat-Nya pertama-tama ditujukan kepada Yohanes Pembaptis, sehingga kata-kata Yesus ini harus diartikan sebagai peringatan. Yesus menduka bahwa jawaban-Nya dapat menimbulkan efek yang tidak diharapkan-Nya.
Yang dapat menyebabkan Yohanes “menaruh syak wasangka” bukannya kenyataan bahwa Yesus mengklaim diri-Nya sebagai Mesias. Dari nada pertanyaan yang diajukan Yohanes melalui delegasinya justru dapat disimpulkan bahwa ia siap menerima Yesus sebagai Mesias. Kesulitan terbesar baginya ialah pahammnya yang berbeda dengan paham Yesus mengenai misi Mesias. Seorang “tangguh” yang menghabiskan nyawa para pendosa karena murka Allah, ternyata tidak muncul dalam diri Yesus. Yesus justru bersikap lemah lembut, murah hati terhadap kaum miskin dan para penderita! Mampukah Yohanes menembus masuk ke dalam wahyu kasih yang tampak dalam kerendahan hati dan kelembutan Yesus? Justru karena di sini ditawarkan suatu model Mesias baru, maka ucapan Yesus dibuka dengan kata berbahagialah.
Harus diakui bahwa diri Yesus adalah ujian berat bagi Yohanes! Pembaca perlu ingat akan reaksi Petrus dalam keadaan serupa. Ia memang mengakui Yesus sebagai Mesias, tetapi ia menaruh syak wasangka terhadap Mesias yang harus menderita (Mat 16:22+).
Ujian yang harus dihadapi Yohanes ditunjang pula oleh cerita tentang Nabi Yunus. Dia pun memaklumkan murka Allah. Menurut dia, Allah akan menghancurkan kota Niniwe. Tetapi, setelah Niniwe bertobat, Allah tidak bertindak sebagai penghukum. Jadi, nubuat nabi tidak terlaksana! Maka, dikatakan, “Hal ini sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah dia” (Yun 4:1). Salahkah dia, kalau sebelumnya ia mencari akal untuk tidak diutus? Hal ini secara sangat mengesankan diungkapkan dalam kitab Yunus, “Dan berdoalah ia kepada Tuhan, katanya, ‘Ya Tuhan, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis sebab aku tahu bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang saba dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya (Yun 4:2). Memang begitulah sikap Allah, dan Yohanes Pembaptis pun mengamat-amati Allah yang demikian dalam diri Yesus.