76. Makan bersama orang-orang berdosa (9:10-13) – tutuge

Bukan orang sehat – 9:12
Dalam teks ini dimaksudkan orang yang sungguh sehat, kuat secara fisik maupun rohani.

Orang sakit – 9:12
Yesus memikirkan di sini bukan orang sakit secara fisik saja, melainkan terutama para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Sebagai tabib, Yesus memang menyembuhkan orang-orang sakit. Tetapi Ia juga mengampuni dosa.

Pergilah dan pelajarilah – 9:12
Dengan berkata, Pergilah dan pelajarilah, Yesus mengajak para pendengar-Nya mencoba menangkap makna perbuatan-Nya.
Menurut Matiua, Yesus mengutip teks dari Nabi Hosea 6:6; Ia mengutipnya lagi dalam Mat 12:7, Yang Kukehendaki ialah belas kasihan, dan bukan persembahan. Lewat teks ini Yesus hendak menegaskan bahwa perbuatan-Nya dituntun oleh pengenalan kehendak Allah dan bahwa semua pendengar-Nya juga harus mengenal dan mewujudkan kehendak Allah itu dalam hidup sehari-hari mereka. Kehendak itu sudah dinyatakan dalam PL oleh para nabi. Orang-orang Yahudi mengakui wibawa Kitab Suci, termasuk Nabi Hosea. Maka, mereka tidak dapat mencari dalil apa pun untuk membenarkan diri. Dengan tidak menerima kenyataan bahwa perbuatan Yesus sesuai dengan kehendak Allah, mereka menolak kehendak Allah sendiri.

Yang Kukehendaki ialah belas kasihan – 9:13
Kehendak Allah itu terungkap dalam kata belas kasihan. Yesus menyatakan belas kasihan ilahi itu dalam tindakan-tindakan-Nya, dalam perhatian istimewa terhadap para pendosa.

Aku datang … memanggil – 9:13
Yesus tidak datang memanggil orang-orang benar, tetapi justru orang-orang berdosa. Di mata orang-orang Farisi Yesus terus-menerus menajiskan diri-Nya karena ia bergaul akrab dengan para pemungut cukai dan pada pendosa. Kedua golongan masyarakat itu dikucilkan dari ibadah dan kurban-persembahan. Yesus justru menjungkirbalikkan keadaan. Dalam khotbah-Nya di bukit, Yesus sudah berkata, “Jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan sadaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat 5:23+)
Liturgi, ibadah, persembahan kurban adalah urusan nomor dua. Urusan nomor satu ialah belas kasih dan rekonsiliasi. Orang yang memutarbalikkan urutan nilai ini, pantas ditegur, “Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kalian, ‘Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia;’” (Mat 15:7-9). Maka, tindakan-tindakan Yesus, manifestasi belas kasihan dan kehendak Allah, dengan sendirinya menghadapkan manusia pada penghakiman.