70. Pertemuan dengan Yesus, Sang Hakim (7:21-23)

Pada hari terakhir – 7:22
Aslinya, Pada hari itu. Dalam ayat 21 Matius bicara tentang hidup sehari-hari, hidup di bumi. Tetapi dalam ayat 22 ini ia bicara tentang hari penghakiman.
Ungkapan pada hari itu (Mat 10:15; 11:22-24; 16:26) mengacu kepada pengadilan terakhir (Mat 24:36; 25:31-46). Pada hari itu akan dinyatakan kemuliaan Alah sedangkan manusia akan mengalami hukuman atau keselamatan (Yes 2:11; 10:3; 49:8).
Menurut teks ini maupun teks tentang pengadilan terakhir, akan ada orang-orang tertentu yang memprotes keputusan Tuhan, Hakim tertinggi.

Bukankah kami telah bernubuat – 7:22
Pertanyaan retoris ini harus ditanggapi dengan jawaban, “Ya!”
Bernubuat searti dengan “mengutarakan amanat Allah,” atau, “menyampaikan wahyu ilahi,” bukannya meramalkan masa depan.

Demi nama-Mu – 7:22
Ungkapan ini muncul tiga kali dalam teks ini dan mengacu kepada mereka yang bertindak dalam nama Yesus, tepatnya kepada mereka yang merasa berhak secara khusus menggunakan nama Yesus, seperti dilakukan oleh Petrus yang juga mengadakan mukjizat pertama “dalam nama Yesus dari Nazaret” (Ki 3:6).
Mereka yang memprotes keputusan Hakim, menyebut perbuatan-perbuatan yang memang tergolong mukjizat-mukjizat; mereka melakukannya karena kuasa yang dberikan oleh Yesus keada kedua belas rasul (Mat 10:7-8). Maka, dapat disimpulkan bahwa yang endak dikecam di sini bukannya orang-orang yang memiliki karunia istimewa, melainkan murid-murid Yesus yang dalam Gereja memiliki kuasa resmi. Untuk melakukan mukjizat otentik sekalipun, manusia tidak perlu suci.

Mengusir setan – 7:23
Dalam PB, ungkapan mengusir setan secara khusus dipakai dalam kisah-kisah tentang pengusiran setan/roh jahat yang menguasai manusia secara jahat (Mat 9:34; 10:1.8; 12:27; 17:19).

Mengadakan banyak mujizat – 7:23
Kata Y: dunameis sebenarnya searti dengan tindakan kuasa, tetapi sering diterjemahkan mukjizat.

Aku tidak pernah mengenal kamu – 7:23
Ucapan Yesus dalam ayat 23 terdiri dari dua bagian. Bagian kedua, yang dibuka dengan ucapan, Enyahlah daripada-Ku! Adalah kutipan dari Mzm 6:9. Pernyataan, Aku tidak pernah mengenal kamu adalam semacam rumus pengucilan yang dipakai para rabi dan berdampak pemutusan hubungan dengan murid selama 7 hari. Rumus itu disebut Nezipha, dan dapat diungkapkan juga begini, “Tidak ada hubungan apa pun antara aku dan engkau!”
Kata mengenal harus diartikan secara Semit, sebab tidak menyangkut pengenalan lahirian. Orang yang mengucapkan rumus pengucilan dapat saja mengenal orang itu dengan baik tetapi tidak mau mengakuinya, terutama sebagai teman/kenalan/sahabat.

Yang melakukan kejahatan – 7:23
Kata Yunani anomia, kejahatan, secara harfiah searti dengan “di luar hukum/tanpa hukum,” dan muncul dalam Injil Matius saja (Mat 13:41; 23:28; 24:12). Tetapi dalam konteks ini, maksudnya ialah “bertindak tanpa kasih,” sebagaimana diuraikan dalam komentar pada 7:21-22.
Dalam 24:12 tercantum sebuah kalimat yang memperjelas masalah ini, “Karena makin bertambahnya kedurhakaan (anomia), maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin;” kedurhakaan diperlawankan dengan kasih. Maka, orang-orang Kristen yang melakukan berbagai mukjizat, akan dienyahkan oleh Tuhan kalau mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang baik itu tanpa kasih.
Rasul Paulus mengungkapkan gagasan serupa, ketika menulis bahwa karunia berbahasa, karunia bernubuat dan mukjizat dapat saja dilakukan tanpa kasih (1Kor 13:1-12) St. Thomas, sambil mengutip kata-kata St. Hieronimus, pernah berkata, “Kasih saja yang membedakan anak-anak Allah dengan anak-anak setan.”
Melakukan kejahatan (tepatnya: bertindak di luar hukum), dalam arti “bertindak tanpa kasih,” merupakan bahaya terbesar yang mengancam Gereja sepanjang masa. Dapat saja terjadi bahwa wakil-wakil paling resmi dalam Gereja – Matius bicara tentang banyak orang macam itu! – pada saat pengadilan tidak akan diakui oleh Kristus sebagai murid-Nya.