69. Pertemuan dengan Yesus, Sang Hakim (7:21-23)

Tuhan, Tuhan – 7:21
Makna ucapan Yesus tentang siapa yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga ini dapat ditangkap dengan tepat kalau diketahui arti seruan Tuhan, Tuhan ini.
Pada waktu Yesus hidup, Ia biasanya disapa Rabi, atau Guru. Apakah Ia pernah disapa Tuan? Mungkin saja, tetapi tidak dapat dipastikan lagi dalam arti apa Ia disapa demikian.
Dalam Injil Matius gelar tuan (Yunani: kyrios) muncul beberapa kali: dalam teks ini (ay 21.22), dalam perumpamaan tentang sepuluh gadis (25:11), dan dalam teks tentang penghakiman terakhir (25:37.44). Ketiga teks ini ternyata berhubungan dengan penghakiman.
Menurut para ahli, gelar tuan dalam teks-teks tadi mengacu kepada Yesus yang sudah mulia; pada akhir zaman Ia akan datang sebagai hakim tertinggi segenap umat manusia. Yesus yang mulia itulah yang sudah diakui oleh jemaah Kristen sebagai Tuhan.
Pengakuan dan seruan berupa Tu(h)an dengan paling mudah muncul dalam rangka liturgi dan doa bersama. Karena itu ada kemungkinan bahwa teks ini bertujuan melengkapi apa yang dikatakan sebelumnya sehubungan dengan doa (bacalah Mat 6:5-15 dan 7:7-11). Nabi Yesaya mengecam orang yang rajin berdoa, tetapi tidak berusaha memadukan hatinya dengan hati Tuhan yang disembahnya. Lewat teks ini, peringatan serupa ditujukan Matius kepada umat Kristen masa awal.
Ada juga kemungkinan bahwa Matius hendak menegaskan satu hal lain lagi, yaitu: Pengakuan iman bisa saja tak bernilai kalau dipandang sebagai suatu hak itimewa pribadi belaka.

Masuk ke dalam Kerajaan Surga – 7:21
Mengenai arti ungkapan Masuk ke dalam Kerajaan Surga (5:20). Di sini Kerajaan Surga dipandang sebagai peristiwa masa depan, sebagai hidup kekal bersama Allah.
Kata-kata yang dialamatkan kepada Yesus di bumi ini, berdampak eskatologis, artinya dapat berakibat fatal bagi manusia bila tidak didukung oleh perbuatan yang seiring dengan kata-kata itu.

Melakukan kehendak Bapa-Ku – 7:21
Dalam ayat ini tidak ditegaskan kontras antara berseru dan melakukan saja, tetapi terutama antara dua tipe iman. Orang yang melakukan kehendak Bapa yang di Surga, beriman benar.
Kehendak Bapa bukan kehendak seorang tiran, melainkan kehendak seorang bapa yang selalu mengusahakan kebaikan anak-anaknya. Maka, melakukan kehendak Bapa bukan melayani Bapa sebagai budak, melainkan menunjukkan kasih kepada-Nya, membahagiakan-Nya. Di tempat lain, yaitu dalam 9:13 dan 12:7, Matius menegaskan apa yang dikehendaki Bapa: “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan.”
Dalam teks ini Matius bicara tentang kehendak Bapa yang harus dilaksanakan manusia dalam hidup ini, bukan tentang kehendak yang dilaksanakan Bapa itu sendiri dalam hubungan dengan rencana penyelamatan (Mat 6:10). Jadi yang penting bukannya supaya Allah melakukan apa yang dikehendaki-Nya, melainkan supaya manusia melaksanakan apa yang dikehendaki Allah! Sebab “siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku …” (Mat 12:50).
Dilihat dari sudut tertentu, ayat 21 ini berisi ringkasan ajaran fundamental mengenai doa dan kelakuan yang harus serasi. Doa sendiri tidak dapat menyelamatkan manusia kalau tidak diiringi pelaksanaan konkret terhadap kehendak Bapa yang selalu berbelas kasihan. Maka, untuk masuk ke alam kerajaan surga, tidak cukuplah berseru-seru, “Tuan, Tuan!” kepada Yesus.