63. Mengabdi Allah saja (6:24)

Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan – 6:24
Kalimat ini mirip sebuah pepatah. Latar belakangnya ialah jalinan relasi antara budak dengan majikannya di dunia Romawi. Seorang majikan mempunyai hak mutlak atas budaknya. Ia malah dapat membunuh budaknya. Dalam situasi demikian, seorang budak tak mungkin menjadi milik dua majikan sekaligus; ia milik mutlak seorang majikan saja.
Perlu disadar bahwa bunyi pernyataan mengabdi kepada dua tuan ini tidak boleh disamakan dengan pernyataan jenis lain, yang sering berlaku di dunia sekarang, misalnya “bekerja untuk dua tuan.” Sebab manusia dapat saja bekerja untuk dua majikan dalam dua perusahaan yang berbeda-beda.

Membenci yang seorang, mengasihi yang lain – 6:24
Aslinya, “Sebab atau ia akan membenci yang satu dan mengasihi yang lain, atau ia akan melekat pada yang satu dan meremehkan yang lain.”
Dalam kalimat ini muncul empat kata yang saling berkaitan, yaitu membenci – mengasihi; setia (kepada) – tidak mengindahkan. Kata membenci berppasangan dengan kata tidak mengindahkan/meremehkan, sedangkan kata mengasihi berpasangan dengan setia/melekat.
Kata membenci dan mengasihi pada dasarnya tidak menyangkut perasaan ataupun emosi melainkan keputusan untuk berpihak pada yang satu dan tidak berpihak pada yang lain. Kata “setia/melekat (pada)” muncul 3 kali saja dalam PB (Luk 16:13; 1Tes 5:14; Tit 1:9).
Kata tidak mengindahkan/meremehkan muncul dalam enam ayat PB lain lagi. Sebenarnya kata “mengasihi” dan “melekat” bermakna hampir sama, demikian pula kata “membenci” dan “meremehkan.” Orang-orang Yahudi suka memakai kata-kata “kuat” dan kontras sekali, dan karena itulah mereka suka menggunakan kata “membenci,” padahal maksudnya hampir sama dengan “kurang mencintai/menghargai.”

Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan mamon – 6:24
Inilah bagian ketiga ayat ini dan sekaligus kesimpulan bagian pertamanya.
Kata Mamon bukan kata Indonesia, melainkan sebuah kata Semit yang muncul dalam teks Yunani bacaan ini. Bangsa Semit suka bicara tentang mamon sehubungan dengan uang, keuntungan atau kekayaan. Karena cakupannya luas, maka kata asing itu biasanya disalin saja (tanpa diterjemahkan!) dari teks Yunani Injil Matius. Namun, perlu diketahui bahwa bagi orang-orang Yahudi, kata mamon tidak berkonotasi buruk, padahal dewasa ini kata itu sering diartikan buruk. Yesus bicara di sini mengenai kepemilikan pada umumnya, bukan mengenai harta yang diperoleh secara curang. Memang benar bahwa uang sering kali memperbudak manusia, sehingga “mamon” kadang-kadang diartikan sebagai semacam berhala dan dituliskan dengan huruf M besar. Tetapi pada dasarnya, mamon disebut di sini sebagai majikan yang oleh manusia dijadikan sederajat dangan Allah. Manusia tidak dapat mengabdi kepada Allah, bila harta dijadikannya sederajat dengan-Nya.
Makna seluruh ayat ini dapat dirumuskan begini: Manusia tidak mungkin mengabdi Allah bila batinnya terbagi-bagi. Secara positif, kalimat ini dapat dirumuskan begini: Manusia harus mengambil keputusan pribadi untuk mengasihi Allah melebihi segala-galanya; segala yang lain dicintai sejauh sesuai dengan kasih kepada Allah. Ayat 24 ini dapat dipandang sebagai pengantar wejangan Yesus selanjutnya yang seluruhnya terpusatkan masalah Mengabdi Allah dan Kerajaan-Nya dengan sepenuh hati.