Minggu, 28 Pebruari 2021

B-092 – Kej 22:1-2.9a.10-13.15-18 – “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku” (ay 12)

ABRAHAM, PELOPOR PERSEMBAHAN ROHANI

  1. Pengorbanan anak-anak kepada berhala tampaknya sangat digemari dalam abad ke-8 dan ke-7 sebelum Masehi. Hukum Taurat pun mengajarkan, bahwa anak sulung adalah milik Allah dan bahwa anak itu wajib ditebus dengan suatu korban pengganti.
  2. Cerita tentang pengorbanan Ishak, dimaksudkan sebagai ilustrasi pada peraturan Hukum Taurat tersebut dan kebetulan dihubungkan dengan Abraham.
  3. Namun inti cerita alkitabiah ini harus dicari dalam gagasan bahwa Abraham adalah pelopor persembahan rohani (ay 12), sebab ia yakin, bahwa pelaksanaan janji yang pernah diterimanya, tidak tergantung daripada Ishak melainkan pada Allah semata-mata. Abraham mendapatkan anaknya kembali, tetapi ia sudah menyadari, bahwa Allah seolah-olah terus-menerus memberikan Ishak itu kembali kepadanya.
  4. Yang juga menarik dalam cerita ini ialah bahwa penyusunnya tidak segan menghubungkan perjanjian dengan pengalaman kematian: Manusia yang bertanggung jawab atas karya Allah, tidak dapat memetik buah-buahnya, selama dalam lapisan terdalam sukmanya, ia belum mendalami semacam peniadaan dan kematian pribadi.
  5. Dilihat dari sudut ini, cerita ini nampak sebagai pra-kisah mengenai Mesias yang bersengsara.

Mrk 9:2-10 – “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia” (ay 7)