48. Keheningan

  1. Keheningan, dalam kehidupan rohani, bukan sekedar diam, sunyi, sepi, lengang tetapi suasana perjumpaan jiwa kita dengan Allah, jiwa yang menyatu dengan Allah; yang ada hanya aku dan Allah. Aku mendengarkan, Allah berbicara. “Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya” (Luk 10:39). “Keheningan adalah bicara yang sedemikian penuh kuasa sehingga mampu mencapai takhta Allah yang hidup. Keheningan adalah bahasa Allah: meskipun tersembunyi, ia sungguh hidup dan penuh kuasa” (BHF 888)
  2. Kalau kita jujur, maka aktivitas yang paling sulit adalah berdoa dalam keheningan. Ketika dalam hati kita tidak ada keheningan, kita tidak mungkin bisa berdoa. Sr. Faustina merasa kehilangan keheningan karena suara radio yang terus disetel, terdengar percakapan dan kegaduhan yang tanpa henti (BHF 837). Ketika kita melek mata, yang pertama kali dicari adalah hp, yang kedua remote tv. Kapan memberi waktu untuk hening dan berdoa?
  3. Keheningan harus diciptakan
    a) Bagi Sr. Faustina peraturan mengenai keheningan harus ditempatkan sebagai peraturan pertama dalam hidup membiara (BHF 119).
    b) “Aku berusaha menciptakan keheningan yang dalam bagi Yesus. Di tengah hiruk-pikuk yang paling bising, Yesus selalu menemukan keheningan di dalam hatiku meskipun kadang-kadang hal ini menuntut banyak pengurbanan dariku” (185).
    c) Dalam salah satu keputusan retret, Sr. Faustina menulis, “aku akan menjaga keheningan batin dan lahir sehingga Yesus dapat beristirahat dalam hatiku” (504).
    d) Bunda Maria berpesan kepada Sr. Faustina, “Putriku, upayakanlah sungguh-sungguh keheningan dan kerendahan hati supaya Yesus, yang terus-menerus tinggal di dalam hatimu, dapat beristirahat” (785).
    e) “Di tengah penderitaan-penderitaan yang amat berat, aku berusaha keras untuk menciptakan keheningan di dalam hatiku” (1040).
  4. Keheningan dan kekuatannya
    a) Hanya orang yang memiliki keheningan yang mampu mendengarkan suara Allah (118).
    b) “Keheningan itu ibarat pedang dalam pertempuran rohani. Jiwa yang banyak bicara tidak pernah akan mencapai kesucian. Pedang keheningan akan membabat segala sesuatu yang akan melekat pada jiwa” (477).
    c) “Roh Kudus berbicara lewat bisikan-bisikan yang lembut kepada jiwa yang hening, kepada jiwa yang tahu bagaimana berdiam diri” (552).
    d) “Jiwaku yang hening hidup dalam Dia, dan kehidupan Allah dalam jiwaku merupakan sumber kebahagiaan dan kekuatan bagiku” (887).
    e) “Kesabaran, doa, dan keheningan – inilah yang memberikan kekuatan kepada jiwa” (944).
  5. Nasihat Tuhan
    “Putri-Ku, hendaknya ketiga keutamaan menghiasi dirimu secara istimewa: kerendahan hati, kemurnian motivasi, dan cinta. Jangan melakukan apa pun di luar yang Aku minta darimu, dan terimalah apa pun yang diberikan oleh tangan-Ku kepadamu. Berusahalah sungguh-sungguh untuk mewujudkan kehidupan penuh konsentrasi sehingga engkau dapat mendengarkan suara-Ku yang sedemikian lembut sehingga hanya dapat didengar oleh jiwa-jiwa yang hening …” (1779).