44. Silih

  1. Silih berarti mengganti; menggantikan hukuman orang lain, asal orang lain tersebut bebas dari hukuman. Seluruh hidup Sr. Faustina berusaha untuk memberi silih atas dosa-dosa orang lain, sehingga Sr. Faustina sendiri yang harus menanggung penderitaan tersebut.
  2. Pengalaman Sr. Faustina: beberapa contoh
    — Sr. Faustina minta kepada Allah untuk menjatuhkan atas dirinya semua siksa neraka, asal seorang imam yang berada dalam bahaya melakukan dosa berat dibebaskan. “Yesus mendengar doaku dan, seketika itu juga, aku merasakan suatu mahkota duri menancap di kepalaku … “ (BHF 41).
    — Tuhan meminta Sr. Faustina agar menyerahkan diri kepada-Nya sebagai suatu persembahan, dengan menanggung sejumlah penderitaan sebagai penyilihan atas dosa-dosa dunia dan pelanggaran-pelanggaran dalam komunitas. Sr. Faustina menjawab, “Baik, aku siap!” “Dalam sekejap seluruh penderitaan terbentang satu per satu di depan mataku” (190).
    — “Pada suatu kesempatan, aku melihat seseorang hampir saja melakukan suatu dosa berat. Aku mohon kepada Tuhan untuk mengirimkan kepadaku siksaan-siksaan yang paling erat supaya jiwa itu dapat tertolong. Tiba-tiba, aku merasakan rasa sakit yang amat nyeri karena mahkota duri pada kepalaku” (291).
    — Seorang imam minta didoakan oleh Sr. Faustina. Sr Faustina menyanggupi dengan doa dan matiraga. Sr. Faustina mohon kepada Tuhan Yesus untuk memberikan kepadanya semua penderitaan dan himpitan, baik lahiriah maupun batiniah, agar pada hari itu imam itu tidak harus menderita. Kemudian suatu rasa sakit yang aneh mencekam jiwanya, dan menangis lirih. Faustina mendengar Tuhan berkata, “Putri-Ku, mengapa engkau menangis? Bagaimana pun, engkau sendiri yang meminta menanggung pengeritaan-penderitaan ini” (596).
  3. Yesus berkenan
    Dalam penderitaan yang luar biasa yang dialami Sr. Faustina, Yesus menjawab, “Engkau hidup bukan untuk dirimu sendiri tetapi untuk jiwa-jiwa, dan jiwa-jiwa lain akan mendapat pahala dari penderitaanmu. Penderitaanmu yang berkepanjangan akan memberi mereka terang serta kekuatan untuk menerima kehendak-Ku” (67).