42. Penderitaan Sr. Faustina (3)

5. Penderitaan karena sakit fisik:
a). Ketika Faustina sakit dan dibawa ke kamar orang sakit, ia sangat menderita karena tak seorang pun menjenguk dirinya (BHF 149).
b). Ketika orang sakit, sejauh ia masih dapat bergerak dan bekerja, segala sesuatu dianggap beres dan baik-baik saja (1509).
c). “Sakitku sudah sedemikian parah, dan aku telah menanti-nantikan kedatangan-Mu dengan kerinduan yang membara” (1539).
d). “Aku jatuh sakit dan sangat menderita … Tetapi jiwaku sudah siap untuk menanggung penderitaan-penderitaan. Seluruh hidupku tidak pernah lepas dari penderitaan” (326).
e). “Sakit mendadak – Penderitaan yang amat berat … rasanya seperti kematian” (321).
f). “Kesehatanku begitu buruk dan masih harus tetap bekerja, pada setiap detik aku merasa sakit. Cuaca panas sekali sehingga tanpa bekerja pun, rasanya sudah amat nyeri” (701).
g). “Hari ini, 13 April 1937, aku harus tinggal di tempat tidur sepanjang hari. Aku terserang batuk yang sangat berat … kekuatan fisik menghilang” (1085).
h). Kesehatan sedemikian buruk. “Batuk amat sangat menyiksa aku, sehingga kalau batuk ini berulang beberapa kali lagi, pasti akan berakhirlah hidupku” (1088).

6. Sikap Sr. Faustina:
a). “Dalam penyakit yang sekarang ini, aku ingin memuliakan kehendak Allah … ambil bagian dalam semua latihan komunitas … melambungkan syukur kepada Tuhan Allah atas setiap duka dan penderitaan” (743).
b). “Mensyukuri penyakitku. Penyakit juga merupakan suatu rahmat yang besar” (1062).
c). “Yang dapat aku lakukan hanyalah menyatukan diriku dengan Yesus yang menderita” (802).
d). “Berbuatlah padaku seperti yang Engkau kehendaki” (1085).

Pertanyaan pendalaman:
a). Apa tanggapanku terhadap penderitaan Faustina tersebut?
b). Apa tanggapanku terhadap sikap Sr. Faustina ketika menghadapi sakit?
c). Ketika aku sakit, di rumah atau di rumah sakit, apa perasaanku ketika dikunjungi teman/saudara?
d). Doa apa yang aku mohon ketika aku sakit?