42. Penderitaan Sr. Faustina (1)

1. Mungkin kita membayangkan bahwa hidup di biara itu ayem tentrem, damai menyenangkan. Salah membayangkan! Di dalam biara terdiri dari banyak orang dengan berbeda latar belakang, kepribadian, pengetahuan, motivasi, dll. Tentu ha ini menyulitkan dalam membangun komunitas.

2. Sejak awal Tuhan Yesus sudah mengatakan, “Ketahuilah bahwa engkau harus banyak, banyak menderita, tetapi janganlah membiarkan semua ini menggentarkan engkau. Aku menyertaimu” (BHF 36). Lewat penderitaan, Yesus ingin memurnikan suatu jiwa, maka Ia menggunakan alat apa pun yang Ia sukai.

3. Penderitaan datang dari para suster
a. “Seringkali maksud-maksud paling baikku disalahtafsirkan oleh para suster … para superiorku tidak mempercayai aku dan memperlakukan aku dengan rasa kasihan seolah-olah aku hidup dalam ilusi ataupun berkhayal” (38).
b. “Penghinaan adalah makanan sehari-hari bagiku” (92).
c. “Aku dipandang sebagai seorang yang dikuasai roh jahat” (123).
d. “Memandang aku sebagai orang yang histeris dan berkhayal” (125).
e. “Aku dihakimi dari segala penjuru. Tidak ada lagi suatu pun dalam diriku yang lolos dari penghakiman para suster” (128).
f. Dicela oleh suster lain, perihal membersihkan kamarnya (181).
g. Selalu dikritik dengan penuh dengki (182).
h. Dituduh secara tidak adil (289).

4. Pederitaan karena pelukisan gambar dan karya Kerahiman Ilahi …….