Selasa, 27 Oktober 2020; St. Frumensius

A-331 – Ef 5:21-33 – “Bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya” (ay 33)

KEAGUNGAN KASIH MANUSIAWI

  1. Paulus tentu saja mengenal gagasan alkitabiah mengenai pertunangan Allah dengan umat-Nya. Gagasan itu dimanfaatkannya secara spontan untuk menggambarkan pernikahan Kristus dengan Gereja.
  2. Paulus ingin menegaskan, bahwa kasih Allah kepada umat manusia mencapai kepenuhannya dalam diri Kristus. Maka wajarlah, bahwa pernikahan ini menjadi lambang kasih yang menjiwai perkawinan Kristen.
  3. Keluarga Kristen, sel gerejani yang paling kecil, harus dijiwai kasih yang mengalir dalam Kristus dan tunangan-Nya, yaitu dalam Gereja seluruhnya. Keluaarga adalah tanda dan lambangnya (ay 32). Kasih manusiawi harus menyerupai kasih Kristus, yaitu harus ramah, tanpa pamrih, dan tidak terputuskan.
  4. Akan tetapi perlu diingat, bahwa sewaktu Paulus berbicara tentang perkawinan, ia berpikir tentang perkawinan yang dikenalnya sendiri, yaitu perkawinan menurut adat sezamannya! Pada waktu itu wanita belum mempunyai hak sama dengan pria. Rasul Paulus tidak melihat keganjilan apa pun dalam penentuan suami sebagai orang yang sama kuasanya seperti Kristus-Kepala, sedangkan wanita serupa dengan Gereja yang harus menerima kuasa suami itu. Tentu saja orang zaman sekarang tidak mungkin bicara begini lagi. Jamane wis owah.

Luk 13:18-21 – “Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya” (ay 19)