Jumat 13 September 2019, St. Yohanes Krisostomus, MEMIMPIN ORANG LAIN MENUJU SURGA

BACAAN

1Tim 1:1-2.12-14 – “Tadinya aku seorang penghojat, tetapi kini dikasihani Allah”
Luk 6:39-42 – “Mungkinkah seorang buta membimbing orang buta?”

 

RENUNGAN

  1. “Mungkinkah seorang buta membimbing orang buta?” Dari pertanyaan Yesus ini jelas bahwa untuk membimbing orang lain, kita haarus bisa melihat. Jika kita bicara tentang memimpin orang lain kepada Kerajaan Allah, maka Yesus adalah satu-satunya Jalan. Ia datang dari Bapa, Ia tahu jalan itu. Maka kita harus merefleksikan penting dan sentralnya Yesus dalam perjalanan menuju surga. Kedua, kita dapat juga berpikir tentang diri kita sebagai pemandu orang lain. Namun sebelum kita memandu dan memimpin orang lain, kita harus mampu memimpin diri kita sendiri, mampu mengolah diri dengan menyelesaikan masalah-masalah pribadi kita dengan semangat rendah hati dan bersatu erat dengan Kristus. Jika kita masih banyak masalah yang belum selesai, sama dengan “orang buta membimbing orang buta.”
  2. Berusaha menjadi seperti Yesus. Sebagai Guru, Yesus tinggal bersama murid-murid-Nya. Yang Ia ajarkan adalah diri-Nya sendiri dan kesaksian hidup-Nya dalam kesatuan-Nya dengan Allah sebagai Bapa-Nya. Cara hidup-Nya sesuai dengan apa yang Ia ajarkan. Bagi para murid, Sang Guru adalah model atau contoh yang layak ditiru (Yoh 13:13-15). Para murid tidak hanya meniru Sang Guru, tetapi berkomitmen saat menghadapi pencobaan (Luk 22:28), penyiksaan (Mat 10:25), dan kematian (Yoh 11:16). Para murid juga menyamakan diri dengan Sang Guru: “Aku hidup, tetapi bukan aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20). Cara hidup para murid tersebut seharusnya menginspirasi kita supaya kita layak menjadi pemandu orang lain ke arah keselamatan.
  3. Berpikir positip terhadap orang lain. ”Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?” Dari ayat ini Tuhan menghendaki agar kita tidak menghakimi orang lain, tetapi menerima mereka sebagai saudara (Mat 7:1-5). Memarahi orang lain dan mengatakan kafir atau bodoh saja tidak boleh (Mat 5:22). Maka sikap yang harus kita bangun ialah: terlebih dahulu mencari kesalahan kita sendiri daripada kesalahan orang lain, berpikir baik dan positip terhadap mereka. Hanya dengan demikian kita bisa tumbuh dalam cinta kasih dan layak memimpin orang lain menuju surga.