Kamis 11 Juli 2019, St. Benedictus Abbas, PERGILAH, WARTAKANLAH KERAJAAN ALLAH

BACAAN

Kej 44:18-21.23b-29; 45:1-5 – “Demi keselamatanmu, Allah mengutus aku ke Mesir”
Mat 10:7-15 – “Kamu telah memperoleh dengan Cuma-Cuma, maka berila pula dengan Cuma-Cuma”

 

RENUNGAN

  1. Perintah Kristus tegas: “Pergilah!” Kerajaan Allah tidak dapat tersebar ketika kita hanya duduk malas dan acuh-tak-acuh. Kita tidak bisa menunggu orang-orang yang membutuhkan Kristus datang mengetuk pintu kita. Kita tidak bisa membiarkan kesempatan untuk memberitakan Kerajaan Allah hilang karena kemalasan kita. “Pergilah” berarti kepekaan hati dan mata kita terhadap mereka yang lapar akan Kristus. Bisa saja mereka ini adalah anggota keluarga kita atau rekan sekerja kita. Dengan memperhatikan mereka yang lapar akan Kristus berarti kita telah mewartakan Kerajaan Allah. Sangat banyak kelompok orang yang tidak tersentuh oleh pewartaan Kerajaan Allah. Mereka adalah golongan atas: orang-orang kaya raya, para anggota legislatip dan eksekutip tingkat atas, bos-bos besar, para professor, dan masih banyak lagi. Apa artinya “Pergilah” untuk orang-orang tersebut bagiku?
  2. Perintah Kristus untuk mewartakan Kerajaan Allah adalah memberikan dari apa yang kita punya yang kita terima dari Allah. Dan tiap hari kita menerimanya dari Kristus. Sebagai rasul, kita pergi bukan dengan kekuatan kita sendiri; sebaliknya, kita membawa kekuatan Kristus untuk menyembuhkan, menyelamatkan, dan mengalahkan kejahatan. Sangat keliru, bila dalam pewartaan, seseorang hanya mengandalkan bakat, talenta, dan kekayaannya. Yang sangat diperlukan adalah: pendoa, kerendahan hati, mengandalkan Allah, ketaatan, dan dalam kesatuan budi dan hati dengan Gereja.
  3. Kristus menegaskan bahwa ketika kita menemui jalan buntu dan gagal, bukanlah sebagai tanda bahwa kita tidak layak lagi sebagai pewarta. Hasil dari pewartaan kita tergantung dari pilihan bebas orang lain. Ketika kita hanya mendapatkan hasil yang serba sedikit, menjadi kesempatan untuk meneguhkan kembali komitmen kita untuk mengikuti Dia, entah waktunya baik atau pun jelek. Saat seperti ini merupakan kesempatan untuk menolak keputus-asaan dan keraguan, dan untuk membuktikan bahwa kesanggupan kita benar-benar karena kehendak Allah. (MS)