Selasa 9 April 2019, HIDUP YANG MENYENANGKAN HATI ALLAH

BACAAN

Bil 21:4-9 – “Setiap orang yang terpagut ular, jika ia memandang ular tembaga itu, ia akan tetap hidup”
Yoh 8:21-30 – “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu thu bahwa Akulah Dia”

 

RENUNGAN

  1. Kita mengakui bahwa Yesus Kristus turun dari surga untuk kita dan untuk keselamatan kita. Ia datang ke dunia ini tanpa menjadi milik dunia. Ajaran-Nya menuntut setiap orang untuk memiliki cita-cita yang paling tinggi dan termulia. Jalan hidup-Nya, gaya hidup-Nya, kritik-Nya terhadap jalan dan gaya hidup anak-anak dunia tidak tanpa perlawanan. Dalam pikiran, kata-kata dan tindakanku, apakah aku berusaha untuk menjadi bagian dari “apa yang di atas?”
  2. Ketika kita mencintai seseorang, kita mengatakan tentang kebenaran yang sesungguhnya orang itu, bahkan ketika kebenaran itu membuatnya tidak nyaman, menyakitkan, dan menuntut. Yesus Kristus sebagai Anak Allah telah mencintai kita dari sononya. Cinta-Nya mendorong-Nya untuk mengatakan kebenaran tentang relasi kita dengan Bapa yang penuh belaskasih. Oleh karena itu hidup kita sudah seharusnya selalu penuh syukur, taat dan tidak ada yang memisahkan hidup kita dari Tuhan. Untuk menjadi milik Yesus dan apa yang di atas, kita harus berusaha membuka hati dan pikiran terhadap kebenaran-Nya, terutama di mana Tuhan menuntut perubahan dan pertobatan.
  3. Cinta mengubah keinginan dan maksud kita. Ketika kita mencintai seseorang, kita ingin menyenangkan orang itu dalam segala hal. Yesus mencintai Bapa, oleh karena itu Ia melakukan apa yang menyenangkan hati Bapa, bahkan ketika Bapa menuntut Yesus untuk memeluk penderitaan, siksaan, dan kematian. Ia mengalami hal ini agar kita memperolehkan kebangkitan dan hidup kekal. Jika kita mencintai Kristus, kita sudah seharusnya melakukan apa yang menyenangkan hati-Nya. Apa yang menyenangkan Kristus? Imanku, harapanku, cintaku, kesetiaanku, dan kerendahan hatiku. Juga penyangkalann diriku. (MS)