4. DOA SALAM MARIA

  1. Doa Salam Maria terdiri dari 3 bagian yang tidak terjadi seketika. Doa Salam Maria membutuhkan waktu sekitar 15 abad untuk sampai pada bentuknya sekarang ini.
  2. Bagian pertama: “Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu.” Kalimat pertama doa Salam Maria ini diambil dari salam Malaikat Gabriel yang diutus Allah untuk mengabarkan kelahiran Yesus. Mulai abad ke-6, umat Kristen mulai mendaraskan salam malaikat itu sebagai penghormatan bagi ibu Yesus. Kata-kata itu berbunyi: “Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu.” Kata-kata ini mirip salam malaikat dalam Luk 1:28: Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”
  3. Bagian kedua: “Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu.” Ungkapan ini menyadur seruan Elisabet: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan, dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:48). Mulai abad ke-12, umat Kristen berdoa: “Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu. Amin.” Belum ada kata Yesus.
  4. Kapan kata “Yesus” ditambahkan ke dalam doa Salam Maria? Kata “Yesus” baru ditambahkan pada abad ke-13, sehingga berbunyi “terpujilah buah tubuhmu Yesus.”
  5. Bagian ketiga: “Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin.” Bagian ketiga doa Salam Maria ini diresmikan untuk seluruh Gereja oleh Paus Pius V pada tahun 1568.
  6. Apa peranan Maria dalam doa-doa kita? Maria adalah seorang manusia di antara kita. Kita tidak berdoa mohon kepada Maria untuk mengabulkan doa-doa kita. Tidak. Dalam doa, kita berdoa bersama Maria. Kita minta tolong kepada Bunda Maria untuk membawa dan mengantarkan doa-doa permohonan kita kepada puteranya, Yesus Kristus. Yesus, sebagai anak, akan sangat berkenan dengan permintaan bunda-Nya. Pertolongan Bunda Maria sangat nyata bagi umat Allah.
  7. Walaupun kita minta pertolongan Bunda Maria, fungsi pengantaraan Kristus utuh tak tergantikan, karena Dia adalah Sang Sabda dan tinggal di antara kita. Jadi, dalam berdoa, kita berdoa kepada Allah, sebagai asal mula dan tujuan hidup kita, dengan pengantaraan Kristus, dan dalam persekutuan dengan RohKudus.

Minggu, 7 Okt 2018, SP Maria, Ratu Rosario, SATU DAN TAK TERCERAIKAN

BACAAN

Kej 2:18-24 – “Keduanya akan menjadi satu daging”
Ibr 2:9-11 – “Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan semua berasal dari Yang Satu”
Mrk 10:2-16 – “Apa yang telah dipersatukan Allah janganlah diceraikan manusia”

 

RENUNGAN

  1. Dari bacaan-bacaan hari ini mengajarkan bahwa suami-isteri telah dipersatukan oleh Allah, karena itu merupakan satu daging. Untuk merawat perkawinan, Firman Tuhan menegaskan pentingnya doa bersama. Kitab Tobit memberi contoh bagaimana Tobia dan Sara berdoa bersama (Tobit 8:4-9). Di dalam doa bersama perlu saling mendoakan pasangannya, terutama ketika berada dalam situasi sulit. Asas dasar suami-isteri adalah saling mengasihi : “Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri” (Ef 5:28).
  2. Allah merancang perkawinan sebagai yang eksklusif, tak terceraikan, dan saling melengkapi. Agar apa yang dikehendaki Allah ini terlaksana, kita perlu menyandarkan diri dan mengandalkan Tuhan: “Yesus, engkau andalanku.”
  3. Kita tidak pernah dibiarkan sendirian; Allah selalu berada di samping kita. Kerahiman Allah yang diwahyukan kepada St. Faustina dilukiskan dalam gambar Yesus Kerahiman. Dalam kerahiman-Nya yang tanpa batas, Allah ingin memenuhi kehidupan kita dengan rahmat dan cinta-Nya. Dalam kerahiman-Nya, Allah menghendaki agar kita membawa semua kelemahan, kebutuhan, dan kedosaan kita dan membenamkannya dalam hati-Nya. Di sana Allah menyembuhkan kita. Maka perlu pasangan suami-isteri semakin dekat dan bersatu dengan Allah. Bagaimana aku menghayati dan menghidupi sebagai suami/isteri?