3. BERZIARAH

Sejarah ziarah:

  • Praktek ziarah sudah ada dalam tradisi Yahudi yang dilaksanakan setiap tahun ke Bait Suci Yerusalem. Pada umur 12 tahun, untuk pertama kalinya, Yesus berziarah ke Yerusalem.
  • Pada abad I, orang-orang Kristen berziarah ke tanah suci (Palestina) untuk napak tilas kehidupan Yesus. Kemudian ada ziarah ke Roma, ke makam St. Petrus dan St. Paulus.
  • Pada abad Pertengahan tempat peziarahan kepada Bunda Maria mulai marak, khususnya di tempat-tempat di mana ada penampakan Bunda Maria.

 

Maksud dan tujuan ziarah:

  • Maksud semula ziarah adalah meninggalkan kesibukan sehari-hari dan berjalan (kaki) menuju suatu tempat peziarahan. Perjalanan ini mengingatkan bahwa kita semua adalah Gereja yang sedang berziarah (berjalan) menuju tanah air surgawi.
  • Perjalanan dalam ziarah dapat dibandingkan dengan perjalanan bangsa Israel yang keluar dari perbudakan Mesir di bawah pimpinan Musa. Banyak tantangan menghadang: haus, lapar, dan bosan. Banyak yang mati di padang gurun karena tidak setia kepada Allah.
  • Doa Jalan Salib menjadi bagian terpenting dari ziarah, karena melalui Jalan Salib kita merenungkan misteri sengsara dan kematian Tuhan. Dengan diterangi oleh kisah sengsara Tuhan, kita ingin bertobat sungguh-sungguh. Maka alangkah baiknya kalau berziarah disertai dengan penerimaan sakramen tobat dan ekaristi.
  • Apa peranan Bunda Maria? Setelah Jalan Salib, kita menuju gua Maria. Di sana kita menyampaikan seluruh niat tobat dan doa-doa permohonan kita kepada Bunda Maria untuk disampaikan kepada Tuhan Yesus. Jadi yang menjadi tujuan utama dalam ziarah ialah Yesus, bukan Bunda Maria. Bunda Maria hanya menyertai dan menghaturkan doa-doa kita kepada Yesus.
  • Bagaimana kalau berziarah tanpa berdoa jalan salib? Jelas tidak sesuai dengan maksud dan tujuan ziarah. Orang langsung datang ke gua Maria, berarti dia hanya “tilik” atau berkunjung ke Bunda Maria. Bukan itu tujuan ziarah.

 

Trend sekarang:

  • Sekarang ini ziarah menjadi trend dan bahkan sekedar wisata rohani. Dampak dari trend ini nyata, yaitu mendorong Gereja-gereja Paroki berlomba-lomba membuka tempat ziarah baru. Biro perjalanan pun laris manis karena banyaknya peminat ziarah, baik ke luar negeri maupun dalam negeri.
  • Sekarang ini ziarah selalu dikaitkan dengan rekreasi, maka menjadi ziarek. Dalam prakteknya, rekreasi lebih banyak daripada ziarah. Perjalanan yang jauh dan melelahkan tidak diimbangi dengan doa dan renungan yang memadai. Lagi pula acara foto-foto dan selfie sering menjadi bagian utama daripada tujuan sebenarnya berziarah.

 

Fakta atau mitos?

  1. Apabila kita berjiarah ke tempat tertentu yang dianggap “keramat” selama 9 kali berturut-turut, doa kita akan dikabulkan. Fakta atau mitos?
  2. Air yang kita bawa dari tempat/sendang peziarahan akan mampu menyembuhkan penyakit-penyakit. Fakta atau mitos?
  3. Satu tempat ziarah lebih manjur daripada tempat ziarah lainnya. Fakta atau mitos?
  4. Terkabulnya suatu doa tergantung pada kehendak Allah semata. Fakta atau mitos? (MS)