BKSN KAJ 2018 – PERTEMUAN KE-3

MENGATASI KONFLIK DALAM PELAYANAN
BELAJAR DARI RASUL BARNABAS

 

1. PENGANTAR

Pelayanan dalam Gereja semakin berkembang dan banyak umat semakin terlibat, mulai dari tingkat lingkungan sampai keuskupan. Namun ada saja yang membuat pelayanan terhambat karena kelemahan manusiawi kita: perbedaan pendapat, cara kerja, iri hati, gosip, kesalah pahaman, ketidakmampuan dalam bekerja sama, sifat otoriter dari pimpinan, dll yang menciptakan perpecahan dalam pelahanan. Banyak konflik yang tak terselesaikan yang menyebabkan sakit hati, merasa tidak dihargai, berhenti melayani, bahkan menarik diri dari komunitas; mutung.

Manusiawi tetapi tidak Katolik. Kalau kita benar-benar sebagai orang beriman, hal-hal tersebut di atas tidak perlu terjadi, apalagi bila sampai tak terselesaikan. Di samping memalukan, juga bukan contoh yang baik, bahkan memberi kesan buruk tentang orang Katolik dan Gereja.Kita akan belajar dari Rasul Barnabas dan Paulus.

2. BACAAN: Kis 9:26-28; Kis 11:23-26; Kis 15:35-41
Perselisihan Saulus dan Barnabas ( dari panduan BKSN KAJ 2018 – hal 44-45)

Dalam salah satu usahanya mengejar-ngejar orang-orang Kristen, Saulus melihat penampakan Tuhan Yesus di Damaskus. Peristiwa itu menjadi titik balik yang sangat penting dalam hidup Saulus. Pertobatan yang dijalani Saulus bukan berarti tanpa kendala dan tantangan. Diceritakan, begitu Saulus datang ke Yerusalem dan mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid Tuhan, tidak ada satu pun dari mereka percaya dan mau menerimanya. Mereka semua takut kepada Paulus karena latar belakangnya sebagai penganiaya jemaat Tuhan. Ada ketidakpercayaan antar mereka dan mungkin juga kecurikaan, jangan-jangan Paulus cuma berpura-pura saja.

Sudah dapat dipastikan hal ini menjadi pil pahit buat Paulus, justru terjadi di awal pertobatannya. Pada saat yang tidak mudah itu, diceritakan hanya Barnabas yang mau menerima Paulus dan percaya akan pertobatan dan penampakan Tuhan Yesus yang dialaminya. Barnabas adalah orang baik, penuh Roh Kudus dan iman. Barnabas membawa Paulus kepada murid-murid Tuhan lainnya, bahkan Barnabas bercerita bagaimana Paulus melihat Tuhan dan keberanian Paulus mengajar dalam nama Tuhan di Damsyik.

Usaha dan belarasa Barnabas ini luar biasa. Sejak itu para murid lain memperbolehkan Paulus mengajar di Yerusalem, bahkan mereka mengijinkan Paulus untuk mengajar di Tarsus (Kis 9:30).

Persahabatan mereka dipererat lagi dengan sebuah perutusan dari Roh Kudus. Roh Kudus berfirman kepada para murid: “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Saat itu pula para murid berdoa dan berpuasa lalu meletakkan tangan atas Paulus dan Barnabas (Kis 13:2-3). Setelah itu nama Paulus dan Barnabas seolah tidak bisa dilepaskan lagi. Mereka adalah rekan sekerja yang handal sehingga firman Tuhan dapat diwartakan ke seluruh pelosok.

Mereka berdua pun bekerja sama bahu membahu menyebarkan firman Tuhan ke beberapa tempat, seperti mengusir setan-setan dan menyembuhkan banyak orang sakit dan memikat banyak orang untuk mengenal Kristus.

Pada suatu ketika kedua sahabat karib ini berselisih paham dalam pelayanan. Perselisihan mereka dimulai dari niat Barnabas ingin membawa Yohanes yang disebut Markus untuk ikut serta dalam perjalanan mereka.

Niat Barnabas itu ditentang oleh Paulus. Dengan tegas Paulus berkata, bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka. Perbedaan pendapat ini membuat Paulus dan Barnabas berpisah. Barnabas dengan Markus pergi melayani jemaat Allah di Siprus. Sedangkan Paulus mengajak Silas untuk melayani jemaat di Siria dan Kilikia.

Pelayanan ternyata tidak tertutup pada konflik. Justru konflik yang terjadi mengajar kita untuk semakin dewasa dalam pelayanan. Janganlah konflik menghancurkan dan melemahkan pelayanan kita. Meski berkonflik tajam, Barnabas dan Paulus tetap bersemangat dalam pelayanan kepada jemaat Allah.

3. Penyebab Konflik Dalam Pelayanan

Dapat dikumpulkan barbagai penyebab konflik dalam pelayanan gerejani: iri hati, tidak dipercaya, merasa tidak “diorangkan,” salah paham, fitnah, tidak bisa bekerjasama, ………………..

4. Bagaimana Konflik Diselesaikan?

Seringkali tidak mudah, apalagi kalau sudah ada hati yang terluka. Sebagai pribadi Katolik, seharusnya tidak perlu sampai konflik. Di samping memalukan juga bukanlah kesaksian yang baik. Hidup orang beriman harus mendasarkan diri pada Firman Tuhan, Doa, dan Sakramen. Ketika berhadapan dengan ketiga hal tersebut, harusnya hati luluh dan berubah menjadi baru. Dari situ dimulailah perjumpaan dan komunikasi, saling terbuka untuk menyelesaikan konflik demi pelayanan terhadap Kristus dan Gereja-Nya.

5. Membuat Niat
Mengingat kembali Firman Tuhan: Hukum Pertama dan Utama, tugas perutusan Yesus tidak untuk dilayani tetapi melayani. Mari kita tetap melayani Tuhan dan sesama! (MS)

Leave a Reply