BULAN KITAB SUCI NASIONAL KAJ 2018 (pengantar)

1. Sejarah
Sebelum Konsili Vatikan II (1963) hampir tidak ada umat Katolik yang membaca Kitab Suci, kecuali kelompok tertentu. Umat pasip ketika mengikuti perayaan Ekaristi. Mereka lebih memilih  berdoa rosario selama misa. Berdoa rosario berhenti ketika saat menerima Komuni. Bagi umat, yang penting adalah menerima Komuni. Sabda dan khotbah tidak penting.
KV II, melalui dekrit Dei Verbum mengajak agar jalan masuk menuju KS  dibuka lebar-lebar (DV 22). Untuk itu KWI menerjemahkan KS ekumenis, sehingga KS bisa dipakai oleh umat Katolik maupun Protestan.
KWI mulai mengajak umat Katolik untuk membaca KS, maka pada Minggu Pertama bulan September 1977 diadakan Minggu Kitab Suci Nasional (MKSN). Hasilnya kurang memuaskan, karena umat belum banyak yang tergerak membaca KS, maka HMKSN harus diteruskan. Dalam perjalanan waktu, keinginan umat untuk membaca KS makin berkembang, maka perlu ada gerakan membaca KS selama satu bulan. Maka diadakanlah Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN).
2. Tujuan BKSN
Agar umat Allah semakin mencintai KS dan Sabda Tuhan menjadi penerang, meneguhkan, menguatkan, dan menegur kehidupan kita.

3. BKSN 2018 KAJ: BERSATU DALAM TERANG FIRMAN
Dalam buku panduan BKS 2018, Komisi Kerasulan Kitab Suci KAJ menyampaikan tema: “BERSATU DALAM TERANG FIRMAN,” sebagai bahan pendalaman KS selama bulan September ini. Di KAJ dirasakan sudah tumbuh kecintaan dan ketertarikan umat terhadap KS. Hal ini ditandai dengan banyaknya gerakan membaca KS. Ada Ayo Baca Alkitab (ABA), Komunitas Verbum Domini (KVB), …

4. Tujuan yang mau dicapai: Agar umat KAJ semakin mencintai KS. Umat perlu menyadari bahwa KS itu asyik dan menarik. Umat diajak untuk merasa penasaran, sehingga tercipta habitus baru untuk membaca KS.

5.Tema
KAJ telah mencanangkan tahun 2018  sebagai Tahun Persatuan, maka dalam BKSN sekarang ini, KAJ mengajak umat untuk mengamalkan Pancasila (Sila ke-3). “Sukacita, perjuangan, keprihatinan Bangsa Indonesia juga termasuk sukacita, perjuangan dan kerihatinan kita umat Katolik KAJ, sebagai bagian dari kehidupan berbangsa.”
Persatuan bisa tercipta bila tiap pribadi menyadari adanya perbedaan-perbedaan dalam diri sendiri, keluarga, kelompok, suku, golongan, dan agama dengan orang-orang di sekitarnya.
Perbedaan bisa menciptakan konflik karena diperkeruh oleh berbagai macam kepentingan. Dan yang sering terjadi: konflik tidak pernah diselesaikan, dibiarkan begitu saja, bahkan bisa menciptakan konflik baru.
Tema utama bermaksud menjawab tantangan umat beriman KAJ saat ini yaitu: “Apa kata KS tentang persatuan? Bagaimana KS dapat membantu umat dalam menciptakan suasana persatuan di tengah konflik dan carut marut kehidupan bangsa Indonesia sekarang ini?”

6. Pokok Bahasan Dalam Pertemuan

1). Mengatasi Konflik Dalam Persaudaraan:  Kisah Yakub dan Esau
Bacaan:
Kej 25:21-23 – Konflik sejak dari kandungan.
Kej 25:29-34 – Tragedi sup kacang merah.
Kej 27:34-35 – Berkat yang tertukar.
Kej 29:25-37 – Yakub menebus kesalahannya.
Kej 33:3.9-11 – Rekonsiliasi konflik dengan menyadari berkat.

2).  Mengatasi Konflik Dalam Perkawinan: Kisah Pasutri Dalam Kitab Suci.
Bacaan:
Tobit 2:9-10 – Masalah muncul.
Tobit 2:11-12 – Peran istri.
Tobit 2:13 – Tuduhan seorang suami.
Tobit 2:14a – Pembelaan isteri.
Tobit 2:14b – Kepercayaan seorang suami.
Tobit 2:14c – Isteri menyadarkan suami.

3).   Mengatasi Konflik Dalam Pelayanan: Belajar dari Rasul Barnabas.
Bacaan:
Kis 9:26-28 – Mereka tidak percaya.
Kis 11:23-26 – Nasehat.
Kis 15:35-41 – Perselisihan.

4).   Mengatasi Konflik Dalam Pilihan Politik: Belajar dari Raja Daud.
Bacaan:
1Sam 18:6-9 – Saul mendengki Daud.

 

MS, 1-9-2018,

 

 

HIDUP YANG MENGHASILKAN BUAH

BACAAN

1Kor 1:26-31 – “Yang lemah dan tak berdaya dipilih Allah”
Mat 25:14-30 – “Karena engkau setia memikul tanggung-jawab dalam perkara kecil, masuklah ke dalam kebahagiaan tuanmu”

 

RENUNGAN

  1. Talenta merupakan harta kekayaan Kerajaan Allah yang diberikan kepada setiap orang sesuai dengan kemampuannya. Tuhan memberi talenta yang kita perlukan untuk menghasilkan buah-buah bagi Kerajaan Allah, dan Allah mengharapkan kita bertanggungjawab atas talenta tersebut.
  2. Hamba yang menggandakan talenta pemberian Tuhan memahami tujuan hidup mereka. Ia selalu murah hati, hidup berbagi, dan penuh kasih. Dan ia menerima hadiah dari Allah dan tanggungjawab yang lebih besar. Masing-masing dari kita juga diberi kesempatan untuk hidup dengan menggunakan talenta yang kita terima demi kemuliaan Allah dan membantu menyelamatkan jiwa orang lain. Setelah seharian kita bekerja, yakinkan diri kita bahwa Tuhan berkata: “Baik sekali perbuatanmu itu, hamba yang baik dan setia.”
  3. Kita sering membandingkan diri dengan orang lain: orang lain diberi banyak, kita diberi sedikit. Ini menjadi alasan untuk malas menghasilkan buah-buah Kerajaan Allah. Allah tidak mengharapkan laba lima talenta kepada orang yang diberi satu talenta. Tetapi hamba yang malas lebih mengutamakan egoisme, cinta diri dan kemalasannya. Kita harus berketetapan untuk menggunakan talenta pemberian Allah dengan bijaksana agar menghasilkan buah berlipat.

 

MS,1.9.18