16. PENTINGNYA SEORANG BAPAK ROHANI

PEMBIMBING ROHANI. Dalam pengalaman keseharian Umat Allah, hampir tidak pernah ada seorang katolik memiliki seorang pembimbing rohani, apalagi yang tetap. Kebanyakan orang datang kepada seorang pembimbing bila sudah berada dalam situasi jiwa yang gawat yang biasanya tidak mungkin bisa ditolong lagi. Banyak alasan mengapa orang katolik tidak memiliki pembimbing rohani, antara lain: merasa diri sudah tahu arah kehidupan yang baik dan benar, bisa sendiri menyelesaikan masalah bersama Allah saja, maka tidak perlu pembimbing, malu bahwa orang lain mengetahui kenyataan dirinya, melihat dan tahu para imamnya tidak mampu bahkan tidak layak memberi bimbingan rohani.

SYARAT MENJADI PEMBIMBING ROHANI. Memang, dalam kenyataannya, tidak semua imam mampu menjadi seorang pembimbing rohani yang baik. Sebagai seorang bapak rohani, yang tugasnya membantu jiwa-jiwa, harus memiliki syarat-syarat khusus, antara lain: dia harus sudah pernah memiliki bergulatan rohani dan pergulatan batin dan mampu menyelesaikannya, memiliki niat murni mencintai keselamtan jiwa-jiwa dan pengalaman penyangkalan diri yang kuat, mampu berdiskresio dengan baik, menjadi orangnya Tuhan, dan seorang pendoa.

PENTINGNYA BAPAK ROHANI BAGI SUSTER FAUSTINA. Dalam Buku Catatan Hariannya, Faustina tidak membedakan antara bapak rohani dan bapak pengakuan. Padahal keduanya berbeda. Yang penting di sini adalah bagaimana Faustina merawat rohaninya sedemikian cermat dan teliti agar selalu berada pada kehendak Allah dan memperoleh keselamatan kekal.

  • Pembimbing rohani Faustina adalah Yesus sendiri, tapi demi yang kelihatan, Yesus memberi dia seorang pembimbing rohani yang tetap, yaitu Pastor Sopocko (BHF 53.721).
  • Suster Faustina sungguh bersyukur memiliki seorang pembimbing rohani yang tetap. Dia menulis: “Sungguh karunia yang amat besar memiliki seorang pembimbing rohani! Orang dapat maju dalam keutamaan dengan lebih pesat, ia dapat melihat kehendak Allah dengan lebih jelas, memenuhinya dengan lebih setia, dan dapat menempuh jalan yang aman dan bebas dari bahaya” (BHF 331.721).
  • Bagi Faustina, “tanpa pembimbing rohani, aku tidak akan mampu berjalan sendirian meniti kehidupan rohaniku” (BHF 721).
  • Yesus menekankan pentingnya taat kepada pembimbing rohani: “Taatlah kepada pembimbing rohanimu dalam segala hal; yang ia katakan adalah kehendak-Ku. … Akulah yang berbicara lewat bibirnya … Aku ingin agar engkau membeberkan keadaan jiwamu kepadanya dengan kesederhanaan dan kejujuran yang sama seperti yang engkau miliki terhadap Aku. Aku ulangi lagi, Putri-Ku: ketahuilah bahwa yang ia katakan adalah kehendak-Ku bagimu.” (BHF 979.1561).
  • Sekali lagi, Yesus menekankan peran pembimbing rohani bagi dirinya: “Benar, Anak-Ku, karena Aku menggantikan diri-Ku dengan pembimbing rohanimu. Ia sedang merawatmu selaras dengan kehendak-Ku. Hormatilah setiap kata-katanya seperti kata-kata-Ku sendiri. Ia ibarat tirai; di belakangnya Aku bersembunyi. Pembimbing rohanimu dan Aku adalah satu; kata-katanya adalah kata-kata-Ku” (BHF 1308).

TERSERAH KEPADA KITA. Pertanyaannya adalah: Apa tujuan hidup kita dan, untuk mewujudkannya, kehidupan macam apa yang ingin kita bangun? Kerahiman Allah yang tanpa batas ditawarkan kepada kita dengan cuma-cuma dan semuanya terserah kepada kita.

(bersambung: Bapa Pengakuan)