14. KESATUAN JIWA FAUSTINA DENGAN TUHAN

Kesatuan dengan Allah merupakan tujuan hidup Faustina (BHF 729). Bagi Faustina kesatuan mesra dengan Allah merupakan kesempurnaan (BHF 457).

KESATUAN MEMPELAI. Kesatuan mesra Faustina dengan Yesus bagaikan mempelai, dua pribadi yang bersatu dalam satu jiwa. Kepada Bunda Maria, Faustina mengatakan: “Bunda Allah, Maria yang amat suci, Bundaku, kini engkaulah Bundaku yang sangat istimewa sebab Putramu tercinta telah menjadi Mempelaiku, dan dengan demikian kami berdua adalah anakmu” (BHF 240). Tuhan Yesus meng-iya-kan dan meneguhkan dengan kata-kata ini: “Aku menghendaki engkau menjadi mempelai-Ku” (BHF 912). Yesus mengatakan bahwa Faustina sebagai Hosti-Ku: “Hosti-Ku, engkau telah menyegarkan Hati-Ku yang tersiksa” (BHF 1056). Kesukaan Tuhan adalah menyatukan diri dengan Faustina: “Putri-Ku, kesukaan-Ku adalah menyatukan Diri denganmu. Ketika engkau menyerahkan diri kepada kehendak-Ku, pada saat itulah engkau memberi Aku kemuliaan yang paling besar dan menurunkan lautan berkat atas dirimu. … “ (BHF 954). Dari Hosti Kudus, Faustina mendengar suara ini: “Aku senang beristirahat di dalam hatimu dan tidak ada suatu pun yang akan menghentikan Aku untuk memberikan rahmat kepadamu” (BHF 1136). Dan jiwa Faustina tak pernah sekejap pun terpisah dari Allah, “aku berusaha tetap menemani Engkau sepanjang hari, dan tidak sesaat pun aku akan meninggalkan Engkau sendirian” (BHF 486). Ketika Faustina membenamkan diri dalam Allah, sungguh-sungguh diresapi oleh Allah, “jiwa tenggelam di dalam keindahan Allah; ia sama sekali lebur di dalam-Nya” (BHF 767). Kesatuan jiwa Faustina dengan Allah dan Allah dengan jiwa Faustina sudah disiapkan sejak awal dunia (BHF 909).

BUAH-BUAH KESATUAN DENGAN ALLAH. Faustina mengalami bahwa kesatuannya dengan Allah menjadi kunci ketika ia mengalami penderitaan yang pahit dan panjang. Jiwa Faustina sangat tenang mengenai segala sesuatu “sebab aku tahu urusan Mempelaikulah untuk memikirkan aku. Aku telah melupakan diriku sama sakali” (BHF 244). Segala penderitaan yang dialami Faustina tidak lagi mendatangkan kepedihan. Hatinya penuh damai dan ketenangan (BHF 455). Hanya kesatuan mesra dengan Allah yang membuat seseorang berguna bagi jiwa-jiwa (BHF 1595). Kehadiran Tuhan merasuki dirinya sampai ke lubuk hatinya dan memenuhinya dengan damai, sukacita, dan pesona, dipenuhi kekuatan dan keberanian yang luar biasa untuk menderita dan bertempur (BHF 480). Cinta dan penderitaan berpadu dalam hatinya (BHF 1050).

BAGAIMANA PENGALAMAN KITA? Belajar dari Suster Faustina, kesatuan dengan Allah tidak bisa dipisahkan dari Firman, Doa, dan sakramen terutama Ekaraisti dan Tobat. Penderitaan, kegagalan, kemiskinan menjadi batu penguji apakah kita tetap mencintai Allah atau meninggalkan Allah? Dari pengalaman Suster Faustina, kita juga belajar apa yang disebut hidup damai dan bahagia.

(Bersambung: APAKAH FAUSTINA JUGA MENGALAMI KERAGUAN?)

MS, 24 Mei 2018

1 Comment

  1. Sangat inspiratif dan bermanfaat….. Kebetulan saya juga sedang mencari dan mendalami kisah-kisah St. Faustina yang fenomenal dan terkenal itu… Terima kasih telah publish. GBU

Comments are closed.