13.SIKAP FAUSTINA TERHADAP PENDERITAAN ITU SENDIRI

Kalau kita menghadapi penderitaan, kegagalan, dan kesulitan biasanya mengeluh, marah terhadap Allah yang kita tuduh tidak adil dan tidak mengasihi. Kita juga sering membuat keputusan bodoh: tidak lagi berdoa, tidak lagi ke gereja, dan mutung untuk segala kegiatan rohani. Kalau hal itu sering kita lakukan, maka saatnya kita belajar kepada Santa Faustina dalam menyikapi penderitaannya.

  • Bagi Faustina, “penderitaan adalah suatu rahmat yang besar; lewat penderitaan, jiwa menjadi seperti Juru Selamat; dalam penderitaan, cinta menjadi kenyataan; semakin berat penderitaan, semakin murnilah cinta” (BHF 57).
  • Dalam penderitaan, Faustina hanya bisa berdoa: “O Kristus, biarlah sukacita, hormat dan kemuliaan menjadi milik-Mu, dan penderitaan menjadi milikku” (BHF 70).
  • Ia tidak takut terhadap penderitaan, dan tetap setia terhadap Allah (BHF 106).
  • Ia menanggung setiap pederitaan dengan berdiam diri dan tidak memberi penjelasan apa pun kalau ditanya (BHF 126).
  • Menderita tanpa mengeluh, berusaha tetap diam (BHF 224,487,1065).
  • Bersyukur kepada Tuhan Yesus atas setiap duka dan penderitaan (BHF 243.343.743).
  • Sabar dan tenang karena sadar bahwa segala sesuatu akan berlalu pada waktunya (BHF 253).
  • Penderitaan diterima sebagai cobaan dari Allah (BHF 632).
  • Ia merindukan sengsara dan penderitaan (BHF 761).
  • Ketika dalam penderitaan, Faustina mencari kelegaan di dalam doa (BHF 792).
  • Tidak memperlihatkan wajah yang masam (BHF 1740).

Dalam setiap penderitaan, Faustina sangat mendambakan pertolongan Allah dan tidak mengandalkan pada ciptaan-ciptaan. Inilah keyakinan Faustina:

  • Ia menyadari betul bahwa hatinya adalah tempat kediaman Yesus secara permanen, maka dia selalu menimba kekuatan untuk berjuang melawan kesulitan-kesulitan (BHF 193).
  • “Aku merasa Tuhan menopangku karena kalau tidak demikian, aku pasti tidak mampu menanggungnya” (BHF 1051).
  • Tuhan Yesus mengatakan kepada Faustina: “Buah hati-Ku yang terkasih, engkaulah kelegaan-Ku di tengah siksaan-siksaan yang mengerikan” (BHF 1058).
  • Faustina menderita hanya demi Tuhan. Tuhanlah yang akan memberi kekuatan dan selalu dekat dengan jiwa yang menderita (BHF1508).
  • Allah sendiri datang untuk menolong Faustina dalam penderitaan-penderitaannya (BHF 1511).

 

(Bersambung)