12. SUSTER FAUSTINA MENYATUKAN SELURUH SAKIT DAN PENDERITAANNYA DENGAN DERITA SANG KEKASIH

Untuk memahami seluruh hidup Suster Faustina, terutama sakit dan penderitaannya, kita harus memahami tujuan hidupnya. Sebagaimana telah ditulis dalam no 1 tentang Tjuan Hidup Faustina, di sini akan diulang kembali tujuan hidupnya. Faustina mengatakan: “Tujuanku adalah bersatu erat dengan Allah lewat kasih, dan misiku adalah memuji serta memuliakan kerahiman ilahi” (BHF 729). “Tujuanku adalah Allah … dan kebahagiaanku adalah memenuhi kehendak-Nya; tidak ada suatu pun di dunia ini, entah kekuasaan entah kekuatan apa pun juga yang dapat mengganggu kebahagiaan ini” (BHF 775). “Aku tahu bahwa Allah adalah tujuan akhir hidupku dan dengan demikian, dalam apa pun yang aku kerjakan, aku selalu memperhitungkan Allah” (BHF 1329). Tujuan hidupnya akan sangat mempengaruhi Faustina dalam mensikapi setiap penderitaannya.

Marilah kita belajar dari cara Faustina menghadapi penderitaan dan meneladaninya, agar setiap penderitaan yang kita hadapi selalu menjadi berkat keselamatan bagi kita sendiri dan terutama bagi orang lain.

Inilah sikap dan tindakan Suster Faustina ketika menghadapi penderitaan:

1). Faustina ingin menderita seperti Yesus

  • “Kiranya terjadilah kehendak Tuhan. Aku tahu bahwa kemurahan-Mu tidak mengenal batas”(BHF 1202.78).
  • Faustina selalu menyerahkan kehendaknya pada kehendak Allah (BHF 1204.1697.1795).
  • Menyatukankan penderitaanya dengan penderitaan Yesus (BHF 349. 1512.1574.1609.1619.1762).
  • “Aku disalibkan bersama Yesus” (BHF 1633).
  • Ingin menyerupai Yesus: “Sebagai mempelai-Mu, aku ingin menyerupai Engkau. Mantol-Mu, yakni mantol penghinaan, harus menyelubungi aku juga. … Biarlah seluruh sengsara-Mu menjadi bagianku. Semoga seluruh dukacita-Mu ditumpahkan ke dalam hatiku” (BHF 1418). “Aku harus menyerupai Yesus dalam penderitaan dan kehinaan” (BHF 268). “O Yesusku, aku memadukan segala penderitaanku dengan penderitaan-Mu” (BHF 740.323). “Di tengah siksaan yang paling besar, aku mengarahkan tatapan mata jiwaku kepada Yesus yang tersalib” (BHF 681). Ketika beban penderitaannya melampaui kekuatannya, ia lari kepada Hati Yesus (BHF 1033).

2).Penderitaan demi silih bagi jiwa-jiwa yang berdosa dan malang

  • Demi membebaskan seorang hamba Allah yang berada dalam jurang dosa berat, Faustina minta kepada Yesus agar menjatuhkan siksa neraka kepada dirinya (BHF 41).
  • “Aku merasakan bahwa sengsara ini adalah demi keselamatan seorang berdosa yang menghadapi ajal” (BHF 1724). “Semua ini demi keselamatan jiwa-jiwa” (BHF 759.875.929.1459).
  • Yesus menjawab keluhan Faustina: “Engkau hidup bukan untuk dirimu sendiri tetapi untuk jiwa-jiwa, dan jiwa-jiwa lain akan mendapat pahala dari penderitaanmu. … “ (BHF 67). Penderitaan sebagai silih untuk pelanggaran-pelanggaran komunitasnya (BHF 190). Faustina mempersembahkan penderitaannya untuk orang-orang berdosa (BHF 349). Tuhan berkata kepada Faustina: “Aku membutuhkan penderitaan-penderitaanmu untuk menyelamatkan jiwa-jiwa” (BHF 1612).

3).Sikap Faustina terhadap penderitaan itu sendiri (bersambung no 13 – harap sabar menanti)